Kekerasan terhadap wanita kah ini?
Harusnya tulisan ini telah terposting tanggal 8 Maret lalu, tepat saatmemperingati hari wanita se-dunia. Karena ini merupakan wujud rasa
keperihatinan terhadap sesosok wanita, keperihatinan? hmmnn memang agak sedikit
membingungkan untuk otakku yang telah terkontaminasi peradaban kontemporer ini.
Sebab kisah ini masih serba tidak jelas, apakah memang penindasan terhadap
wanita, ataukah karena keluguan seorang wanita yang tidak sadar telah terperdaya,
atau bahkan mungkin tidak merasa tertindas karena telah menganggapnya sebagai
anugrah dan kenikmatan?
Masih shock dengan email yang dikirim oleh rekan lama beberapa hari lalu,
hari ini ternyata email susulan nggak kalah membuatku lebih geleng-geleng
kepala sembari mengelus dada. Potongan cerita perbincangan yang hanya pantas
dibaca oleh pria ataupun wanita yang mengaku telah dewasa. Sosok yang konon
kabarnya sangat teguh dengan pendiriannya, sangat kuat dengan ibadahnya, sangat
santun dengan budayanya, sangat mempesona dengan kecantikannya, kini
bayangan-banyangan itu memudar dengan perlahan dari imagi tentangnya.
Betapa ia telah sangat menikmati perbuatan yang sebenanya belum pantas
dilakukan. Bagaimana dengan sangat jelas digambarkan bahwa semua dilakukan
dengan kesenangan, sama-sama mereguk kenikmatan dunia, mendesah dan memuncak
dengan bersama, tanpa ada satu paksaan.
Tapi kebingunganku bertambah, bahwasanya itu semua dilakukan tanpa ada satu
ikatan yang jelas. Ataukah perasaan sama-sama menuai peluh keringat setelah
“bertempur” beberapa kali, sudah cukup untuk meng”absah”kan perbuatan tersebut?
Berarti nggak usah neko-neko pake status “kekasih” , hubungan “pacaran” atau
bahkan “ijab kabul” segala?
Kan kalau pacaran itu harus tau segalanya tentang pasangan, kan kalau “ijab
kabul” itu harus tahu silsilah keluarga, apalagi yang namanya “Bibit, Bebet,
dan Bobot” buat sebagian besar orang masih sangat penting?
Eyalah... apa ini tho yang namanya jaman serba instan, nggak cuman Mie
saja, tidak hanya bubur thok, apalagi penyimpanan data-data, karena sudah
sangat dimudahkan dengan teknologi digitalisasi yang cepat. Ternyata masalah yang
katanya “mereguk kenikmatan bersama” juga bisa yah dibuat instan?
Jarak yang lumayan jauh bukan menjadi penghalang untuk melakukan yang
“instan-instan” itu. Tanpa harus memikirkan apa yang selanjutnya terjadi
ataukah memang belum terpikirkan yah? namun semoga bukan “nggak terpikirkan”!
Air mata yang mengalir bukanlah air mata penyesalan atas terenggutnya
“kesucian wanita” bukan pula tangisan penderitaan atas perbuatan seorang pria
yang dikencaninya. Namun air mata “kebahagiaan” atas “kenikmatan” sesaat yang
instan.
Tertindaskah dia sebagai “wanita”? Menindaskah dia sebagai “pria”?
Tertindaskah mereka dengan “instanisasi asmara”?
Kurasa aku tak berhak untuk menanyakan apalagi mengomentari, karena terlalu
dangkal pengetahuanku tentang itu semua. Mungkin hanya coretan iseng ini
sebagai wujud rasa keprihatinan terhadap apa yang telah terjadi dengan rekan
baru, yang dia juga adalah seorang “wanita”.


<< Home