Monday, October 13, 2008

Gitu Saja Kok Ribut

Kalau kita melakukan perjalanan di pelosok dusun atau di lereng gunung,
lantas bertanya pada seseorang beberapa jauh lagi desa yang akan kita
tuju, ia akan menjawab: "Sekilo lagi, Mas, ikuti jalan ini terus saja!"
Atau orang lainnya lagi mungkin memakai istilah yang berbeda: "Serokokan
lagi..."--artinya, kita sulut rokok, kita hisap sampai habis sebatang,
sampailah ke tempat tujuan.
Tapi, ternyata, kita harus masih berjalan kaki berkilo-kilo meter dan
menghabiskan sebungkus rokok. Kita lantas menyimpulkan bahwa
'sekilometer'-nya orang dusun itu sekian kali lipat dari seribu meter
ukuran matematika kita. Sementara 'serokokan' itu maksudnya pasti bibir
kita mengulum rokok saja tanpa dinyalakan.
Jelas, orang dusun dan orang gunung lebih tegar hidupnya dibanding kita.
Sepuluh kilo meter bagi kita, dekat satu kilometer bagi mereka. Jauh bagi
kita, dekat bagi mereka. Berat untuk kita, ringan saja untuk mereka.
Ketika saya melakukan turne di sepanjang pulau Madura, di wilayah timur
kami menempuh jarak yang menurut sopir kendaraan yang kami tumpangi hanya
sekitar 20 (dua puluh) km.
"Jalannya juga sudah bagus," ia meyakinkan.
Ternyata lebih dari 60 (enam puluh) km. Lagian keadaan jalan sudah rusak
cukup berat.
Sejak melewati KM 20 sesungguhnya kami sudah mulai protes, namun hanya
berani menggrundel dalam hati, karena kami belum mengerti persis bagaimana
metodenya kalau harus marah kepada orang Madura. Kami diam-diam mengidap
celurit syndrome. jangan-jangan nanti keliru omong.
Tapi sesampainya di tempat tujuan saya berani menghimpun keberanian
sesudah mengajak sopir itu berguru dan aktif menyodorkan rokok kepadanya.
"Pak, katanya tadi cuma 20 kilo, lha kok ternyata 60 kilo lebih?"
Ternyata ia tersenyum dan enteng saja menjawab: "Kalau begitu yang salah
bukan saya, Pak..."
"Lha, siapa yang salah?" Desak saya.
"Caranya menghitung tadi yang salah!"
Dan ketika kemudian saya kejar juga dia tentang kondisi jalan yang
ternyata penuh batu dan lobang-lobang, ia menukas dengan amat sigap: "Ah,
itu kan soal aspal saja, Pak!"
"Soal aspal saja bagimana?" Saya tidak mengerti. jadi bagus. Jadi ini soal
aspal saja yang kurang. Begitu saja, Bapak kok ribut!"
Logika dan metode berpikir yang sama saya jumpai pada informasi yang lain
dari sopir legendaris saya ini.
Ia bercerita bahwa di jalan yang kami lalui itu terdapat tempat makam yang
di dalamnya ada kuburan seorang tokoh lokal yang terpandang. Di nisannya,
tidak tertulis nama sang tokoh, melainkan kata-kata:
Dimakamkan di sini
pada........
ttd
SUAMI KAMI
Di bawah kata 'tertanda' itu tertera tiga nama istri almarhum. Sementara
nama yang tertimpa kematian sendiri malah tidak tertera sama sekali.
Ini merupakan gagasan cemerlang yang boleh ditransfer. Bagi kita yang
ingin menikmati istri tiga tanpa nama kita diketahui oleh generasi
mendatang, silahkan pakai model ini.
Tetapi yang menjadi permasalahn kita di sini bukan itu, melainkan
informasi sang sopir bahwa tanda tempat makam yang dimaksud itu bercat
putih bersih.
Ternyata setelah kami lihat, cat tembok itu sama sekali tidak putih,
melainkan campuran antara hitam, coklat, kelabu, dan macam-macam.
"Begitu kok putih, Pak!" saya nyeletuk.
"Lho! Itu kan cuma soal cat, Pak! Kalau tembok itu dicat putih ya jadi
putih. Begitu saja kok ribut Bapak ini!"
Saya kira logika semacam ini sangat perlu kita sosialisasikan, agar
masyarakat terbiasa menanggung realitas dengan kalem.
Kalau ada orang tanya kenapa sampai sejauh ini kita merdeka belum bisa
diciptakan keadilan sosial yang sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab:
"Itu kan sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab: "Itu kan hanya soal
pemerataan, Mas. Kalau pemerataan dilaksanakan, kan adil. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang memprotes kenapa di kota-kota semakin banyak pelacur
berbagai jenis dan kelas, kita tinggal menepis: "Itu kan soal nama saja,
Mas. Asal mereka tidak kita sebut pelacur, kan jadinya tidak ada pelacur.
Sebut saja WTS atau 'wanita harapan' atau apa semua Mas. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang yang mencak-mencak soal banyaknya penggusuran,
pengangguran, atau langkah yang cenderung kurang memanusiakan manusia,
kita sudah punya aji-aji untuk menjawab: "Ah, itu kan hanya soal anggapan,
Mas. Kalau penggusuran kita anggap pengorbanan, dan pengorbanan kita
anggap kemuliaan, kan kita malah dapat pahala dari Tuhan Gitu saja kok
ribut"[]
(Emha Ainun Nadjib/2002/PmBNetDok)