Monday, October 13, 2008

Dasar Teori Tentang Majnun

Memang bukan Saridin namanya kalau tidak gila. Dan
bukan gilanya Saridin kalau definisinya sama dengan
definisi Anda tentang gila. Wong sama saya saja
Saridin sering bertengkar soal mana yang gila dan mana
yang tidak kok. Padahal saya juga agak gila. Apalagi
sama Anda. Anda kan jelas-jelas waras.

Misalnya di jaman Demak bagian akhir-akhir itu saya
menyatakan bersyukur bahwa dakwah para Wali semakin
produktif. Sunan Ampel yang berfungsi sebagai semacam
Ketua MPR, Sunan Kudus sebagai Menko Kesra, Sunan
Bonang sebagai Pangab, atau Sunan Kalijaga sebagai
Mendikbud, benar-benar menjalankan suatu managemen
sejarah dan strategi sosialisasi nilai dengan
metoda-metoda yang canggih dan efektif.

Bukan hanya komunitas-komunitas Islam semakin menyebar
dan meluas, tapi juga mutu kedalaman orang beribadah
semakin menggembirakan. Tapi Saridin menertawakan
saya. Dan bagi saya sangat menyakitkan karena
tertawanya dilambari aji-aji kedigdayaan batin: begitu
suara tertawanya lolos dari terowongan tenggorokan
Saridin, pepohonan bergetar-getar, burung-burung
beterbangan menjauh, awan-awan dan mega melarikan diri
sehingga matahari gemetar tertinggal sendirian di
langit.

"Jangan sok kamu Din!" saya berteriak.

Saridin menghentikan tertawanya. Ia menjawab.
"Bersyukur ya bersyukur, tapi kalau saya, juga
berprihatin."

"Kenapa?" tanya saya.

"Diantara orang-orang yang beribadah kepada Tuhan itu
banyak yang majnun!"

"Gila?"

"Ya, Majnun itu artinya ya gila, Majnun!"

"Majnun gimana?"

"Pengertian kita tentang junun atau kegilaan kayaknya
berbeda. Bagi saya gitu itu gila, tapi bagi kamu
tidak."

"Gitu itu gimana yang kamu maksud?"

"Orang berdiri khusyuk dan bersedekap. Matanya
konsentrasi ke kiblat. Mulutnya mengucapkan hanya
kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku
memohon pertolongan....", tiba-tiba tertawanya meledak
lagi, sehingga tanah yang saya pijak terguncang,
padahal tidak demikian. Orang itu tidak hanya kepada
Tuhan menyembah. Wong jelas tiap hari dia menyembah
para priyayi, para priyagung, para Tumenggung atau
Adipati. Minta tolongnya juga kebanyakan tidak kepada
Tuhan. Ia lebih banyak tergantung pada atasannya
dibanding kepada Tuhan. Meskipun dia tidak menyatakan,
tapi terbukti jelas dalam perilaku dia bahwa yang
nomor satu bagi hidupnya bukan Tuhan, melainkan
penguasa-penguasa lokal dalam hidupnya. Entah penguasa
politik, atau penguasa ekonomi. Itu namanya majnun.
Tuhan kok dibohongi. Dan caranya membohongi Tuhan
dengan kekhusyukan lagi! Kalau otaknya sehat, hal
begitu tidak terjadi. Hanya otak gila saja yang
memungkinkan hal itu terjadi....."

Saya melengos. "Ah, kamu ini terlalu idealis. Normal
dong kalau manusia punya kelemahan yang demikian. Mana
ada manusia yang sempurna. Orang kan boleh berproses.
Orang berhak belajar secara bertahap. Pengabdiannya
kepada Tuhan diolah dari belum utuh menjadi utuh pada
akhirnya. Konsistensi seseorang atas kata-kata yang
diucapkannya kan bertahap, tidak bisa langsung seratus
persen!"

Kesal betul saya.

Tiba-tiba tertawanya meletus lagi, sehingga saya
terjengkang lima depan kebelakang. "Lho, ini masalah
simpel. Kalau bilang jagung ya jagung, kalau kedelai
ya kedelai. Kalau ya itu ya ya. Kalau tidak itu ya
tidak. Gampang saja kan? Kalau seorang Imam terlanjur
mengungkapkan statemen kepada Tuhan 'hanya kepada-Mu
kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon
pertolongan' - maka ia harus bertanggung jawab atas
kata kami disitu. Artinya, pertama, ia terlanjur
berjanji kepada Tuhan. Kedua, ia harus bertanggung
jawab kolektif atas seluruh persoalan jamaahnya. Tidak
hanya imam dan takwanya, tapi juga segala masalah
kesehariannya, sampai soal nasi dan problem-problem
sosialnya....."

Sekarang giliran saya yang tertawa. Saya mendatangi
Saridin dan berbisik di telinganya: "Din, jangan
terlalu serius dong. Dialognya yang santai saja!"

"Lho!", Saridin terhenyak, "Justru karena ini untuk
[buku] humor, maka saya pilihkan tema-tema lawakan.
Gimana sih Ente ini. Yang saya omongkan ini kan
orang-orang yang melawak kepada Tuhan. Orang-orang
yang menyatakan sesuatu tapi tidak sungguh-sungguh.
Orang-orang yang ndagel di hadapan Tuhan, karena
mungkin dipikirnya Tuhan itu butuh dagelan dan
disangkanya para Malaikat bisa tertawa!"

Saya jadi agak takut-takut. "Din, Saridin, kamu jangan
begitu ah. Jangan omong yang enggak-enggak. Kalau sama
Tuhan yang serius dong!"

"Justru saya sangat serius kepada Tuhan, sehingga saya
ceritakan mengenai orang-orang yang melawak
dihadapan-Nya!"

"Orang beribadah kok melawak!" saya membantah lagi.

"Lho, gimana sih, " ia menjawab "Orang tiap hari
bersembahyang dan mengajukan permintaan kepada Tuhan -
'Ya Allah anugerahilah aku jalan yang lurus!' Dan
Tuhan sudah selalu menganugerahkan apa yang orang
minta. Orang itu tidak pernah memakainya, tapi tiap
hari ia memintanya lagi dan lagi kepada Tuhan. Kalau
saya jadi Tuhan, pasti kesel dong...."

"Husysysy!!!" saya membentak.

"Husysy bagaimana!"

"Emangnya kamu Tuhan?"

"Siapa bilang saya Tuhan? Majnun kamu!"

"Emangnya Tuhan bisa kesel?"

"Maha Suci Allah dari kekesalan. Tapi apakah karena
Tuhan mustahil kesal maka menjadi alasan
hamba-hamba-Nya untuk berbuat semaunya, untuk
mendustai Dia, untuk berbuat gila?"

"Wong gitu saja kok gila tho Din!"

"Lho! Orang sudah disuguhi kopi, tidak diminum, lha
kok minta kopi lagi, saya suguhi kopi lagi, lagi,
lagi, lagi sampai meja penuh sesak oleh gelas-gelas
kopi, tapi lantas tidak diminum lagi, tapi dia minta
lagi dan minta lagi. Gila namanya kan?"

"Ah ya bukan gila. Itu paling-paling munafik namanya."

"Ya gila dong. Majnun. Orang yang punya logika, tapi
berlaku tidak logis, itu penyakit junun namanya. Orang
yang tak menggunakan pengertian mengenai konteks,
proporsi dan lokasi-lokasi persoalan, itu virus junun
yang menyebabkannya. Orang bilang keadilan sosial,
tapi kerjanya tiap hari menata ketimpangan, itu
majnun. Orang bilang semua perjuangan ini untuk
rakyat, padahal prakteknya tidak - itu namanya virus
junun, lebih parah dari HIV...."

Akhirnya saya kesal. Saya tinggalkan si Majnun ini!

Emha Ainun Nadjib
Quoted from :
"Demokrasi Tolol Versi Saridin", Cetakan ke II 1998, Zaituna