Dasar Teori Tentang Majnun
Memang bukan Saridin namanya kalau tidak gila. Dan
bukan gilanya Saridin kalau definisinya sama dengan
definisi Anda tentang gila. Wong sama saya saja
Saridin sering bertengkar soal mana yang gila dan mana
yang tidak kok. Padahal saya juga agak gila. Apalagi
sama Anda. Anda kan jelas-jelas waras.
Misalnya di jaman Demak bagian akhir-akhir itu saya
menyatakan bersyukur bahwa dakwah para Wali semakin
produktif. Sunan Ampel yang berfungsi sebagai semacam
Ketua MPR, Sunan Kudus sebagai Menko Kesra, Sunan
Bonang sebagai Pangab, atau Sunan Kalijaga sebagai
Mendikbud, benar-benar menjalankan suatu managemen
sejarah dan strategi sosialisasi nilai dengan
metoda-metoda yang canggih dan efektif.
Bukan hanya komunitas-komunitas Islam semakin menyebar
dan meluas, tapi juga mutu kedalaman orang beribadah
semakin menggembirakan. Tapi Saridin menertawakan
saya. Dan bagi saya sangat menyakitkan karena
tertawanya dilambari aji-aji kedigdayaan batin: begitu
suara tertawanya lolos dari terowongan tenggorokan
Saridin, pepohonan bergetar-getar, burung-burung
beterbangan menjauh, awan-awan dan mega melarikan diri
sehingga matahari gemetar tertinggal sendirian di
langit.
"Jangan sok kamu Din!" saya berteriak.
Saridin menghentikan tertawanya. Ia menjawab.
"Bersyukur ya bersyukur, tapi kalau saya, juga
berprihatin."
"Kenapa?" tanya saya.
"Diantara orang-orang yang beribadah kepada Tuhan itu
banyak yang majnun!"
"Gila?"
"Ya, Majnun itu artinya ya gila, Majnun!"
"Majnun gimana?"
"Pengertian kita tentang junun atau kegilaan kayaknya
berbeda. Bagi saya gitu itu gila, tapi bagi kamu
tidak."
"Gitu itu gimana yang kamu maksud?"
"Orang berdiri khusyuk dan bersedekap. Matanya
konsentrasi ke kiblat. Mulutnya mengucapkan hanya
kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku
memohon pertolongan....", tiba-tiba tertawanya meledak
lagi, sehingga tanah yang saya pijak terguncang,
padahal tidak demikian. Orang itu tidak hanya kepada
Tuhan menyembah. Wong jelas tiap hari dia menyembah
para priyayi, para priyagung, para Tumenggung atau
Adipati. Minta tolongnya juga kebanyakan tidak kepada
Tuhan. Ia lebih banyak tergantung pada atasannya
dibanding kepada Tuhan. Meskipun dia tidak menyatakan,
tapi terbukti jelas dalam perilaku dia bahwa yang
nomor satu bagi hidupnya bukan Tuhan, melainkan
penguasa-penguasa lokal dalam hidupnya. Entah penguasa
politik, atau penguasa ekonomi. Itu namanya majnun.
Tuhan kok dibohongi. Dan caranya membohongi Tuhan
dengan kekhusyukan lagi! Kalau otaknya sehat, hal
begitu tidak terjadi. Hanya otak gila saja yang
memungkinkan hal itu terjadi....."
Saya melengos. "Ah, kamu ini terlalu idealis. Normal
dong kalau manusia punya kelemahan yang demikian. Mana
ada manusia yang sempurna. Orang kan boleh berproses.
Orang berhak belajar secara bertahap. Pengabdiannya
kepada Tuhan diolah dari belum utuh menjadi utuh pada
akhirnya. Konsistensi seseorang atas kata-kata yang
diucapkannya kan bertahap, tidak bisa langsung seratus
persen!"
Kesal betul saya.
Tiba-tiba tertawanya meletus lagi, sehingga saya
terjengkang lima depan kebelakang. "Lho, ini masalah
simpel. Kalau bilang jagung ya jagung, kalau kedelai
ya kedelai. Kalau ya itu ya ya. Kalau tidak itu ya
tidak. Gampang saja kan? Kalau seorang Imam terlanjur
mengungkapkan statemen kepada Tuhan 'hanya kepada-Mu
kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon
pertolongan' - maka ia harus bertanggung jawab atas
kata kami disitu. Artinya, pertama, ia terlanjur
berjanji kepada Tuhan. Kedua, ia harus bertanggung
jawab kolektif atas seluruh persoalan jamaahnya. Tidak
hanya imam dan takwanya, tapi juga segala masalah
kesehariannya, sampai soal nasi dan problem-problem
sosialnya....."
Sekarang giliran saya yang tertawa. Saya mendatangi
Saridin dan berbisik di telinganya: "Din, jangan
terlalu serius dong. Dialognya yang santai saja!"
"Lho!", Saridin terhenyak, "Justru karena ini untuk
[buku] humor, maka saya pilihkan tema-tema lawakan.
Gimana sih Ente ini. Yang saya omongkan ini kan
orang-orang yang melawak kepada Tuhan. Orang-orang
yang menyatakan sesuatu tapi tidak sungguh-sungguh.
Orang-orang yang ndagel di hadapan Tuhan, karena
mungkin dipikirnya Tuhan itu butuh dagelan dan
disangkanya para Malaikat bisa tertawa!"
Saya jadi agak takut-takut. "Din, Saridin, kamu jangan
begitu ah. Jangan omong yang enggak-enggak. Kalau sama
Tuhan yang serius dong!"
"Justru saya sangat serius kepada Tuhan, sehingga saya
ceritakan mengenai orang-orang yang melawak
dihadapan-Nya!"
"Orang beribadah kok melawak!" saya membantah lagi.
"Lho, gimana sih, " ia menjawab "Orang tiap hari
bersembahyang dan mengajukan permintaan kepada Tuhan -
'Ya Allah anugerahilah aku jalan yang lurus!' Dan
Tuhan sudah selalu menganugerahkan apa yang orang
minta. Orang itu tidak pernah memakainya, tapi tiap
hari ia memintanya lagi dan lagi kepada Tuhan. Kalau
saya jadi Tuhan, pasti kesel dong...."
"Husysysy!!!" saya membentak.
"Husysy bagaimana!"
"Emangnya kamu Tuhan?"
"Siapa bilang saya Tuhan? Majnun kamu!"
"Emangnya Tuhan bisa kesel?"
"Maha Suci Allah dari kekesalan. Tapi apakah karena
Tuhan mustahil kesal maka menjadi alasan
hamba-hamba-Nya untuk berbuat semaunya, untuk
mendustai Dia, untuk berbuat gila?"
"Wong gitu saja kok gila tho Din!"
"Lho! Orang sudah disuguhi kopi, tidak diminum, lha
kok minta kopi lagi, saya suguhi kopi lagi, lagi,
lagi, lagi sampai meja penuh sesak oleh gelas-gelas
kopi, tapi lantas tidak diminum lagi, tapi dia minta
lagi dan minta lagi. Gila namanya kan?"
"Ah ya bukan gila. Itu paling-paling munafik namanya."
"Ya gila dong. Majnun. Orang yang punya logika, tapi
berlaku tidak logis, itu penyakit junun namanya. Orang
yang tak menggunakan pengertian mengenai konteks,
proporsi dan lokasi-lokasi persoalan, itu virus junun
yang menyebabkannya. Orang bilang keadilan sosial,
tapi kerjanya tiap hari menata ketimpangan, itu
majnun. Orang bilang semua perjuangan ini untuk
rakyat, padahal prakteknya tidak - itu namanya virus
junun, lebih parah dari HIV...."
Akhirnya saya kesal. Saya tinggalkan si Majnun ini!
Emha Ainun NadjibQuoted from :
"Demokrasi Tolol Versi Saridin", Cetakan ke II 1998, Zaituna
Fatwa Tukang Becak
Perjalanan ulang alik Yoga-Jombang biasanya kami (saya dan saudara-saudari atau teman-teman)
lakukan di paruh malam yang kedua.
Naik bis yang kecepatannya supir ngedap-ngedapi selama 4-5 jam, subuh menyongsong kami di tempat
tujuan. Terkadang malah hanya tiga setengah jam, atau malah hanya beberapa kejapan saja - karena
kami 'tewas' sepanjang perjalanan.
Tak pernah terlintas ide di benak saya unuk mencoba menerapkan mekanisme demokrasi di bis :
misalnya, semua unsur merundingkan berapa kecepatan bis sebaiknya. Saya biasanya pasrah saja. Tak
pernah melontarkan kritik kepada bagaimana sopir menjalankan roda pemerintahannya. Tak perlu
mengonrol. Paling hanya evaluasi, yng toh saya 'peti-es' kan sendiri, tidak saya 'press release' kan.
demikianlah, malam itu, kami menunggu bis ke Solo atauYogya di perempatan njomplangan atau teteg
sepur deka stasiun Jombang. Becak berderet di sana, menunggu semacam janji hari depan, tanpa
batasan siang atau malam.
Kami menunggu bis favori kami. api karena malam, tak bisa langsung tampak bis apa yang akan lewat.
Jadi satu-satunya jalan ialah menjalankan semacam taktik atau srategi atau penipuan.
Semua bis kami stop. Kalau bis ternyata ke Kediri atau Ponorogo, kami jujur bilang "Ke Yogya" Kalau
yang lewat adalah bis ke Yogya tapi bukan favorit kami, kami berbohong "Ke Ponorogo!"
Demikian berlangsung berulang-ulang. Para tukang becak guyup membantu kesibukan kami "memilih
masa depan".
Salah seorang tukang becak bahkan berlaku seperti saudara kami sendiri: aktif menolong menyetopbis
dan mengobrol di setiap 'pause'. Dan ketika kemudian hujan mendadak turun, ia mempersilakan kami
berlindung di becaknya, sementara ia numpang di becak sisinya.
Hujan berkepanjangan. Tiba-tiba tukang becak itu nyeletuk: "Ya inilah hukuman bagi orang yang
berbohong!"
Kami terkesiap. Tak tahu mau berkata apa-apa.
"Tapi memang kalau meningkatkan taraf hidup memang harus pandai bohong" - ia melanjutkan -
"Kalau jujur saja nanti hanya dapat bis yang jelek dan lambat."
Dan ia terus melanjutkan - "Tapi ya untunglah Cak, Tuhan menghukum langsung, jadi nanti di akhirat
lebih ringan. Untung juga Tuhan masih mau menghukum, itu namanya Dia tresno, kita tidak di-ujo
saja..."
Kami benar-benar meenjadi bisu.
Sambil akhirnya bis favorit itu tiba, si tukang becak mempersilakan kami dan berkata - "Selamat tidur
Cak! Mudah-mudahan sudah lunas hukumnya!"
Saya malah tak bisa tidur. Apa benar sudah lunas? Apalagi keadaan hidup sekarang ini membuat dosa
tak terasa sebagai dosa.
Quoted by Redaksi from
"Secangkir Kopi Jon Parkir", Emha Ainun Nadjib, Mizan, Bandungg, cet. vi, 1996
Gitu Saja Kok Ribut
Kalau kita melakukan perjalanan di pelosok dusun atau di lereng gunung,
lantas bertanya pada seseorang beberapa jauh lagi desa yang akan kita
tuju, ia akan menjawab: "Sekilo lagi, Mas, ikuti jalan ini terus saja!"
Atau orang lainnya lagi mungkin memakai istilah yang berbeda: "Serokokan
lagi..."--artinya, kita sulut rokok, kita hisap sampai habis sebatang,
sampailah ke tempat tujuan.
Tapi, ternyata, kita harus masih berjalan kaki berkilo-kilo meter dan
menghabiskan sebungkus rokok. Kita lantas menyimpulkan bahwa
'sekilometer'-nya orang dusun itu sekian kali lipat dari seribu meter
ukuran matematika kita. Sementara 'serokokan' itu maksudnya pasti bibir
kita mengulum rokok saja tanpa dinyalakan.
Jelas, orang dusun dan orang gunung lebih tegar hidupnya dibanding kita.
Sepuluh kilo meter bagi kita, dekat satu kilometer bagi mereka. Jauh bagi
kita, dekat bagi mereka. Berat untuk kita, ringan saja untuk mereka.
Ketika saya melakukan turne di sepanjang pulau Madura, di wilayah timur
kami menempuh jarak yang menurut sopir kendaraan yang kami tumpangi hanya
sekitar 20 (dua puluh) km.
"Jalannya juga sudah bagus," ia meyakinkan.
Ternyata lebih dari 60 (enam puluh) km. Lagian keadaan jalan sudah rusak
cukup berat.
Sejak melewati KM 20 sesungguhnya kami sudah mulai protes, namun hanya
berani menggrundel dalam hati, karena kami belum mengerti persis bagaimana
metodenya kalau harus marah kepada orang Madura. Kami diam-diam mengidap
celurit syndrome. jangan-jangan nanti keliru omong.
Tapi sesampainya di tempat tujuan saya berani menghimpun keberanian
sesudah mengajak sopir itu berguru dan aktif menyodorkan rokok kepadanya.
"Pak, katanya tadi cuma 20 kilo, lha kok ternyata 60 kilo lebih?"
Ternyata ia tersenyum dan enteng saja menjawab: "Kalau begitu yang salah
bukan saya, Pak..."
"Lha, siapa yang salah?" Desak saya.
"Caranya menghitung tadi yang salah!"
Dan ketika kemudian saya kejar juga dia tentang kondisi jalan yang
ternyata penuh batu dan lobang-lobang, ia menukas dengan amat sigap: "Ah,
itu kan soal aspal saja, Pak!"
"Soal aspal saja bagimana?" Saya tidak mengerti. jadi bagus. Jadi ini soal
aspal saja yang kurang. Begitu saja, Bapak kok ribut!"
Logika dan metode berpikir yang sama saya jumpai pada informasi yang lain
dari sopir legendaris saya ini.
Ia bercerita bahwa di jalan yang kami lalui itu terdapat tempat makam yang
di dalamnya ada kuburan seorang tokoh lokal yang terpandang. Di nisannya,
tidak tertulis nama sang tokoh, melainkan kata-kata:
Dimakamkan di sini
pada........
ttd
SUAMI KAMI
Di bawah kata 'tertanda' itu tertera tiga nama istri almarhum. Sementara
nama yang tertimpa kematian sendiri malah tidak tertera sama sekali.
Ini merupakan gagasan cemerlang yang boleh ditransfer. Bagi kita yang
ingin menikmati istri tiga tanpa nama kita diketahui oleh generasi
mendatang, silahkan pakai model ini.
Tetapi yang menjadi permasalahn kita di sini bukan itu, melainkan
informasi sang sopir bahwa tanda tempat makam yang dimaksud itu bercat
putih bersih.
Ternyata setelah kami lihat, cat tembok itu sama sekali tidak putih,
melainkan campuran antara hitam, coklat, kelabu, dan macam-macam.
"Begitu kok putih, Pak!" saya nyeletuk.
"Lho! Itu kan cuma soal cat, Pak! Kalau tembok itu dicat putih ya jadi
putih. Begitu saja kok ribut Bapak ini!"
Saya kira logika semacam ini sangat perlu kita sosialisasikan, agar
masyarakat terbiasa menanggung realitas dengan kalem.
Kalau ada orang tanya kenapa sampai sejauh ini kita merdeka belum bisa
diciptakan keadilan sosial yang sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab:
"Itu kan sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab: "Itu kan hanya soal
pemerataan, Mas. Kalau pemerataan dilaksanakan, kan adil. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang memprotes kenapa di kota-kota semakin banyak pelacur
berbagai jenis dan kelas, kita tinggal menepis: "Itu kan soal nama saja,
Mas. Asal mereka tidak kita sebut pelacur, kan jadinya tidak ada pelacur.
Sebut saja WTS atau 'wanita harapan' atau apa semua Mas. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang yang mencak-mencak soal banyaknya penggusuran,
pengangguran, atau langkah yang cenderung kurang memanusiakan manusia,
kita sudah punya aji-aji untuk menjawab: "Ah, itu kan hanya soal anggapan,
Mas. Kalau penggusuran kita anggap pengorbanan, dan pengorbanan kita
anggap kemuliaan, kan kita malah dapat pahala dari Tuhan Gitu saja kok
ribut"[]
(Emha Ainun Nadjib/2002/PmBNetDok)
Kelak Tak Perlu Maaf Lagi, Semoga....
Untuk Hari raya, keterlaluanlah kalau hanya saya suguhkan secangkir kopi seperti biasanya. Musti saya kasih gelas yang besar, atau silakan ngejog.
Kalau 'ndak, nanti saya dirasani. Kalau toh tak dirasani, dan hanya dibatin saja sebagai seorang bakhil, kirkir, 'akik yaman', ya tugas saya untuk ngrasani diri saya sendiri.
Idul Fthri juga kita sebut Hari Raya. Semacam Hari Pesta, atau Yaumul Haflah. Memang, salah satu fitrah manusia ialah daerah yang hangat dan daging yang ingin gemuk.
'Kan dietnya sudah sebulan penuh.
Fitrah manusia itu dua sisi mata uang: wadag dan ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok 'kan kecut. Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi Panjenenganipun Kewan.
Berhariraya itu gampang.Tapi beridulfitri susah bukan main!
Berhariraya: mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya pemenuhan wadaqiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya,tinggal kuluu wasyarabuu, asal laa tusrifuu. Kalau sampai ada yang miskin, apalagi yang faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, acuh beibeh terhadap segla keduniaan. Kedua, ini yang gawat: ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil.
Jadi kalau ada milyaran manusia berada di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan syaithanirrajim.
Lha, yang susah itu beridulfithri.
Besok pagi kita akan sibuk minta maaf. Apa saja sih kesalahan kita? Apa saja dosa kita sebagai pribadi, sebagai pejabat, sebagai seniman, sebagai tukang becak, sebagai bagian dari organisasi sosialitas antar manusia? Mungkinkah kita menginventarisir semua itu, untuk kita ajukan dan mohonkan 'grasi' dari segenap manusia yang kita salahi: agar benar-benar kita peroleh Idul Fithri?
Jangan-jangan kita pernah dengki kepada orang lain: apa benar kita akan akui itu dan menjamin lusa tak kita ulang lagi? Jangan-jangan kita pernah memperbudak orang lain: kita egois, hanya tahu kepentingan kita, hanya ingat kebutuhan kita sendiri. Jangan-jangan kita terbiasa merampok orang, memfetakompli orang lain sebagai 'hostes' belaka, sebagai 'tukang pijat' dari klangenan kita, bahkan menjadi lintah yang menghisap, menyerap, menggerogoti tenaga darah kehidupan orang lain. Apa betul itu semua akan kita insafi demi memperoleh Idul Fithri?
Untunglah orang-orang di sekitar kita terbiasa hidup dengan pola Nabi Isa: "Kalau pipi kananmu ditempeleng, kasih pipi kirimu!"
Tapi nanti makin lama orang makin akan memakai model Nabi Muhammad, yang sudah mengevolusi,sudah mengalami akmaltu lakum dinakum, sudah menyempurna akidah kekhalifannnya.
Kalau pipi kananmu ditempeleng, jangan kasih pipi kirimu. Itu namanya nahiy munkar.
Pembebasan. Kenapa?
Mungkin anda sudah kebal,sehingga tak bergeming oleh seribu tempelengan di pipi Anda.
Mungkin Anda sudah sakti mandraguna. Berkat fatwa-fatwa para ulama mengenai iman, takwa dan kesabaran, sehingga Anda tak pusing oleh pukulan-pukulan.
Tapi kalau kita membiarkan pipi kia ditampar hanya karena kita sudah punya kekebalan 'aji lembu sekilan spiritual': itu namanya show of force, pamer kekuatan. Kita menunjukkan betapa hebatnya ketabahan kita, dan itu tak mustahil mengandung potensi riya' atau takabbur.
Membiarkan pipi ditempeleng, berarti membiarkan orang menempeleng. Dan kalau kita membiarkan orang lain berbuat salah, itu namanya egoistis. Kita terlalu berkonsentrasii untuk menghimpun 'pahala memaafkan' sambil membiarkan oang lain menumpuk 'dosa menempeleng'. Nggak bener dong!
Jadi, tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk quu anfusakum wa ahlikum naara.
Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh watak pendendam dalam diri kita.
Dalam mekanisme psikologisnya, kecenderungan yang biasanya malah justru mendorong orang yang 'ngintip' kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar peraturan lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula ia me-nahiy munkar kita.
Jadi, ia mengkapitalisir dosa-dosa kita demi akumulasi pahala-pahala dia, untuk credit point dan sogokan.
Polisi yang baik ialah berjuang sedemikian rupa sehingga kemungkinan kita berbuat salah ditekan serendah mungkin.
Bukan malah dijebak dan 'dimakan'. Dengan kata lain, kita tidak berburu 'pahala memaafkan'. Yang diusahakan oleh setiap muslim ialah keadaan dimana tak lagi perlu memaafkan, karena memang tak ada kesalahan.
Nah, kalau persyaratan-persyaratan maknawi dari proses maaf-memaafkan itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan: Al-'Afuw, Al-Ghafur, dan lain-lain
Pernah ada seorang Sufi yang ditempelenggi oleh serdadu gara-gara dia menunjuk kuburan, ketika ditanya, 'Dimana tempat yang ramai di sekitar sini?" Tatkala kemudian datang seseorang yang menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tokoh spiritual penasihat Sang Khalifah, serdadu itu lantas menyembah-nyembah memohon ampun.
Sang Sufi berkata: "Aku sudah memaafkanmu sejak sebelum engkau memukulku."
Di dalam Al-Qur'an, konsep mengenai negeri yang baik (adil makmuur) dipaparkan bersamaan (terkait, konstektual) dengan rabbun ghafuur.
tidak baldatun thayyibatun thok, tapi pakai 'Allah mengampuni' segala.
Memang kitab pamungkas itu diturunkan tidak untuk iseng. Coba, apakah kira-kira Allah mengampuni Amerika Serikat yang terus-menerus memveto resolusi yang menyngkut kezaliman Israel atas Palestina. Beranikah Anda menjamin bahwa Allah memaafkan histeria indvidualisme, materialisme dan liberalisme di negeri-negeri makmur yang dewasa ini kita makin mabuk menirunya?
Tetapi kita memang punya hobbi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun.
Kita terapkan theology of balance, bikin pelanggaran sebanyak-anyaknya dan bikin pahala untuk menimbanginya. Kita terlalu 'berjual beli' secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap Muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf: justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi.
Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling mamaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah 'alat penghapus dosa' (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melinkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.
Cakrawala perjalanan Muslim ialah keadaan bebas maaf. Keadaan di mana maaf tak diperluka, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, Idul Fithri, bukanlah menghapus kesalahan yang kita adakan dulu, melainkan berusaha tidak melakukan kesalahan.
Tapi namanya juga cakrawala. Kita tak akan pernah sampai ke sana. Kita sekadar mengarahkan diri ke sana.
Bukankah bahwa "manusia itu tempat kesalahan" termasuk sunnatullah atau hukum alam? Dan itu bisa kita eksploitir: Mari korupsi sebanyak-banyaknya, lantas kita bilang: Al insaanu mahallul khatha' wan-nisyaan! Manusia itu tempat persemayaman kesalahan dan lupa!
Asal ingat bahwa malaikat Munkar dan Nakir memiliki Aji Bajra geni yang amat nggegirisi. Bahkan "wa man ya'mal mistqala dzarratin syarran yarah!" (barangsiapa memperbuat sedebu keburukan, he'll see...kata Allah) bisa berlaku detik ini juga.
Demikianlah saya ancam diri saya sendiri...
Saya ucapkan Minal 'Aidin wa Faidzin: semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orng yang beruntung. Siapakah yang beruntung?
Laa yastawii ashhabun-naari wa ashhabul-jannah, ashhabul-jannati humul-faaizun. Tidak sama sekabat neraka dengan sekabat surga. Sekabat surga ialah orang-orang yang beruntung.
Surah apa dan ayat berapa itu ya?
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Pakir/Miza/PmBNetDok)
Terkilir
Nabi yang paling kontroversial bernama Khidhir. Lidah jawa, dulu,
menyebutnya Kilir.
Ini kekasih Allah yang amat canggih ilmunya. bayangkan, Musa yang super
intelektual dan negarawan itu saja 'nyahok' dihadapan beliau. Apalagi
Anda dan Jon yang fakir.
Kontroversial ? Ya orang terus berdebat, beliau itu sudah wafat atau belum.
Al Qur'an tak memberitakan hal itu. Tak sedikit orang percaya bahwa Khidhir
masih 'exist'. Bahkan sering dijadiikan pedoman dan cakrawala untuk laku-
laku keilmuan tertentu.
Seorag santri sibuk berjuang untuk bisa ketemu Nabi eksentrik itu, sebab
sang Kiai bilang seorang santri baru sempurna kesantriannya kalau sudah lulus ketemu Khidhir. Syaratnya adalah, hati bersih, keikhlasan dan tak punya kebencian.
Pada suatu malam, santri kita itu dikasih tahu olek Kiai, mungkin sudah
bisa menemui Khidhir di sebuah tempat di dekat pantai. Ketika malam ia
kesana, yang dijumpainya malah seorang anak muda bergaya 'rocker', rambutnya 'punk', pakainannya 'norak', mengendarai motor yang knalpotnya ribut kayak perang dunia III.
Santri kita muak melihatnya. Kecewa dan langsung belalu pulang ke Kiainya.
Karena tergesa, kakinya terkilir sebelum sampai.
Ketika sampai, ia sampaikan pengalamannya itu, dan sang Kiai bilang, " Kenapa kau tinggalkan ia ? Itu Khidhir yang datang untuk menguji apakah engkau masih punya rasa benci atau tidak ". Santri kita menyesal habis-habisan.
Tentu saja kita tak perlu memperdebatkan itu Khidhir atau bukan. Yang Jon ambil dari kisah itu ialah dakwah mengenai ketulusan hati dan kebijakan untuk tak keburu membenci sesuatu hanya karena penampilan kulit luarnya. Supaya jiwa kita tak terkilir.
(Emha Ainun Najid/"Secangkir Kopi Jon Pakir/PmBNetDok)
Sesloki Samdera
Jon Parkir punya banyak kawan orang Iran.
Macam-macam modelnya. Si caem itu mahasiswi. liberal, tidak politis, berusaha bisa meloskan tubuhnya yang mbody, sintal bahenol.
Si cambang itu militan, jiwanya tegak ke langit. Kaki Allah terpateri di keningnya. Ia berani menyongsong gunung meletus.
Si doktor, pelarian Mujahidin Khalq itu, sibuk diskusi. Rambutnya rontok oleh obsesi politik, teknokrasi ngara baru, membayangkan rakyat Iran itu gumpalan angka-angka.
Lha si limbung ini yang susah. Wajahnya terbengkalai dan matanya seperti sanggup meledakkan bumi. Begitu ia tahu Jon beragama Islam, ia langsung naik pitam.
"Apaan tuh Islam! Kenapa kam masih begiu tolol di tengah abad nuklir dan kecerdasan begini. Elu tahu Al Qur'an itu tak lebih dari buku sejarah untuk Sekolah Menengah ...!"
Pokoknya dia marah-marah. Ia lahir dari chaos revolusi Iran tanpa bisa menerjemahkan ke dalam kearifannya apa yang terjadi. Segala sesuatu di arruus bawah dan arus permukaan perpolitikan dan peradabanmuka bumi yang serba dimensi ini menjadi sederhana ditangannya.
Pokoknya Islam yang salah!
Setelah Jon yajin bahwa nanti kalau terpaksa -- apa boleh buat akan Jon pakai jurus Sin Lam Ba yang Jon karang-karang mendadak barulah Jon omong dingin:
Al Qur'an itu samuudera tak bertepi. Dan manusia itu ember, drum, kaleng atau cangkir.
Kalau engkau drum, engkau peroleh air satu drum dari samudera. Kalau engkau cangkir, apalagi sekedar sloki, air perolehanmu pun hanya sesloki..."
Ternyata di tanah air, ada juga sloki-sloki.
"Sejak kenal marxisme, saya berhenti sembahyang. Alhamdulillah!" kata mereka.
"Kok alhamulillah? Alhamdulilmarx dong."
Dan, bagus. Islammu belum bener. Lepaskan. Semoga nanti ketemu yang asli Islam.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Parkir"/1996/PmBNetDok)
Pengamen Cilik Itu, Sukmanya

Kalau Anda suka lesehan makan di Malioboro malam atau ngemil jagung bakar di alun-alun, pasti merasakan berbagai segi pengalaman dengan para pengamen. Jumlah mereka banyak bukan main, ya ?
Memang makin banyak anak-anak muda penganggur. Kita musti prihatin dan santun kepada mereka, meskipun terkadang kita sebel saking banyaknya yang datang ngamen. Satu jam duduk ngemil jagung, bisa tujuh atau sepuluh pengamen. Jumlah uang untuk pengamen bisa jauh lebih banyak dibanding untuk bayar jagung dan ronde.
Kalau di Jakarta lain lagi.
Naiklah Bis Kota, anak-anak muda pengamen dalam bis bisa lebih tertib dan profesional. Pakai MC segala. "Ibu-ibu dan Bapak-bapak serta Saudara-saudara sekalian. Selamat siang. Untuk mengurangi kelelahan Anda dalam perjalanan ini, kami bermaksud menghibur dengan beberapa lagu..."
Para pengamen itu pakai topi, kupluk, atau blangkon. Begitu selesai lagi, topi dicopot, ditengadahkan dan beredar ke tempat duduk para penumpang. Anda persilakan memberi atau tidak. Mungkin hukumnya "fardhu kifayah".
Sebelum berlalu, mereka ber-MC lagi: "Terima kasih kami ucapkan kepada Anda sekalian atas perhatiannya kepada kami. Kami doakan semoga selamat dan sejahtera sampai di tujuan."
Beberapa hari ini saya menyaksikan yang ngamen di bis itu anak-anak kecil. Pidatonya juga tidak kalah canggih. Tapi umumnya mereka belum bisa memainkan instrumen musik. Jadi mungkin sekadar nyanyi diiringi kendang kayu.
Terkadang mereka menyanyi polos, keras, memekik, berteriak, serak dan melonjak-lonjak-seperti menghentakkan derita batin yang mereka sendiri belum mengenalnya. Yang paling tajam adalah pemandangan wajah mereka dan sorot mata mereka. Memancarkan ketidakbahagiaan dan ketidakrelaan.
Anak-anak seumur itu, bukan saja tidak memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga tak mendapatkan santunan sosial, tak mendapatkan hak mereka untuk dikasih makan-minum setiap hari; sehingga mereka harus gigih sedemikian rupa. pasti derajat mereka jauh lebih tinggi dibanding para koruptor, atau para pengemis terhormat, atau apalagi yang korupsi dan pengemisannya 'legal' dan tidak kentara.
Tapi sukma para pengamen anak-anak itu tidak akan rela. Tetapi mereka memancarkan cahaya dari Allah yang juga tidak ridha, tidak rela........
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Parkir/1992/PmBNetDok)