Sudrun Gugat !!!

BIASANYA Sudrun memang mendadak datang di bilik saya lewat tengah malam, untuk mengingatkan agar saya jangan sampai tertidur di saat-saat paling bening seperti itu: justru ketika hampir semua orang terbaring lelap, ketika berbagai jenis kesibukan-kesibukan duniawi sedang beristirahat.
Tapi tadi malam Sudrun hadir tidak untuk itu. la tidak duduk di bibir ranjang seperi biasanya, mengusap jidat saya dengan wajah tersenyum. Melainkan berdiri di pojok ruang, tangannya bersedakap dan matanya melotot merah padam ke arah saya.
"MasyaAlllah...ada apa Drun?", terloncat pertanyaan dari mulut saya.
"Ada apa ada apa ndasmu!", ia membentak dengan ketus.
Saya terhenyak bangun. Terbelalak mata saya karena sungguh-sungguh tidak paham apa yang terjadi pada sahabat saya ini.
"Kali ini saya tidak bisa memaafkanmu. Saya tidak bersedia memohonkan ampun kepada Tuhan untukmu!" katanya lagi.
"Dan kalau mungkin nanti Tuhan bertanya kepada saya apakah sebaiknya kamu dimaafkan, saya akan kemukakan pendapat bahwa kamu harus membayarkan ongkos yang sangat mahal untuk mungkin memperoleh ampunan. Soalnya kamu ini main-main..."
"Apa-apaan ini? Main-main apa?", saya memotong.
"Kamu ini artis, tapi merasa Kiai. Kamu ini pedagang, tapi merasa jadi juru dakwah!" "Lho Iho Iho....", saya semakin tidak paham,
"Omong apa ini! Artis bagaimana? Pedagang bagaimana?"
Tapi rupanya Sudrun tidak perduli pada ketidakpahaman saya. la meraih peci saya di meja dan memasukkan ke dalam tasnya sambil menggerundel:
"Kamu pikir peci ini tanda kemusliman atau kekyaianmu? Dulu salah seorang tokoh PKI juga tiap hari pakai peci!". Kemudian surban yang tersampir di sandaran kursi diambilnya pula dengan kasar, ia lemparkan ke atas almari,
"Selembar kain yang membuat jutaan orang terserang tahayul! Sehingga mereka percaya kepada sesuatu yang tidak bisa dipercaya, sehingga mereka merindukan hal¬-hal yang sesungguhnya tidak ada!" la terus menyerbu dengan gencar.
"Dan kamu menikmati tahayul itu. Kamu menikmati kebodohan massal orang-orang yang mengerumunimu. Hanya dengan uluk salam yang fasih dan kutipan satu dua firman ditambah kelicinan menggelitik telinga, mereka percaya bahwa kamu adalah segala-galanya..."
Tiba-tiba satu tangannya memegang dagu saya, mendongakkannya dan menghadapkan airmukanya yang amat keras ke wajahku,
"Dan yang paling celaka dari seluruh celaka rutin massal itu, kamu tahu apa? lalah bahwa kamu sendiri percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi ummatmu!"
Saya tertunduk lemas. Saya sungguh-sungguh tidak mengerti semua ini.
"Kamu adalah manusia makhluk biasa ciptaan Tuhan yang dijunjung-junjung oleh sejuta orang. Tiap hari dijunjung-junjung, setiap saat disanjung-sanjung, sehingga kamu sendiri akhirnya yakin bahwa kamu memang pantas dijunjung-junjung dan disanjung-sanjung.
Sejuta orang memusatkan perhatian dan cintanya kepadamu.
Sejuta orang bersetia kepadamu seharian di bawah terik matahari dan guyuran hujan.
Sejuta orang beranggapan bahwa kamu sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri.
Maka akhirnya kamu sendiri menomersatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa bahwa kamu tidak penting.
Kamu lupa bahwa jangankan kamu: bahkan alam semesta dan seluruh isinya inipun tidak pentilng – yakni pada saat kamu tenggelam di dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu. Kamu lupa bahwa kamu ini bukan apa-apa...."
"Lantas kamu pikir apa kamu ini apa-apa!?", kali ini saya yang membentak.
"Apalagi aku!", ia mengejek,
"Sedangkan kamu saja tidak penting, apalagi aku. Justru karena aku tahu terus-menerus bahwa aku bukan apa-apa, maka aku punya posisi dan kewajiban untuk mengingatkanmu bahwa kamu inipun bukan apa-apa.
Mulutmu yang manis bukanlah bikinanmu.
Suaramu yang melengking bukanlah produkmu.
Retorika dan orasi romantikmu bukanlah hasil dari kehendakmu.
Bahkan kamu tidak pemah sanggup menciptakan sehelai rambutpun.
Jadi kenapa kamu merasa penting?
Sehingga kamu sedemikian dahsyat mengkomoditisasikan pentingnya kamu di mata berjuta-juta orang itu, lantas managemenmu kacau.
Lantas kamu sanggupi tumpukan keharusan-keharusan yang kamu tidak sanggup memenuhi. Lantas terpaksa ingkar janji kepada nasabah-nasabah dan konsumen-konsumen tertentu di suatu daerah? Apa kamu ini bintang film?
Apa kamu ini produser yang memasang brooker-brooker di setiap propinsi yang memperoleh laba dari perniagaan keartisanmu?
Sedangkan pedagang yang asli pedagang sajapun setia untuk berdisiplin mensuplai pesanan¬pesanan yang sudah terkonfirmasi.
Kalau sebuah toko sudah terlanjur membayarkan uang panjar dan memesan barang ke sebuah perusahaan pemasok, lantas pada saatnya barang itu ternyata tidak datang: ia tidak akan menerima alibi ‘manusia merencanakan, tapi Tuhan jua yang menentukan’.
Pedagang saja tidak logis dan tidak etis beralibi demikian.
Apalagi kamu!", ¬ia mengepalkan kedua tangannya,
"Aku sudah bosan mendengar berita semacam itu berulangkali!"
Sudrun terengah-engah sendiri oleh serbuan-serbuan gencarnya kepada saya.
(Emha Ainun Nadjib/"Kiai Sudrun Gugat"/PmBNetDok)
Tuhan Yang Maha Jowo
Kalau Anda sering bergaul dengan orang Luar Negeri, terutama auslander yang tergolong 'modern'dan 'rasional' -- mungkin saja sering Anda sampai pada kesimpulan begini : "Panas dulu kita bangsa Jawa ini gampang dijajah. Lha wong kita ini terlalu baik". Terlalu 'baikan' sama orang. Sangat menyambut. Akomodatif. Suka menyuguh dan memberikan apa saja yang kita bisa kepada para tamu. Itu namanya "jowo". Kalau pelit, itu "ora jowo". Tentulah. Karena kita semua memang pengagum Tuhan, dan berusaha meniru sifat-sifatNya. Bukankah Tuhan Maha Jowo? Bayangkanlah kalau Allah mengurangi jowoNya, misalnya pagi ini kurangi anugerah Nya kepada Anda dengan mengambil mata atau telinga yang nempel di tubuh kita dan disimpan kembali di gudang Nya. Lha, ya begitulah, beberapa lama ini saya menemani tamu monco saya. Tak habis-habisnya saya nraktir, membelikan lurik, batik, berbagai sovenir, T-shirt, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari, saya berdebat dengannya menemukannya sebagai seorang materialis sejati. Materialis itu bukan dalam arti gila materi, tapi ia melihat seluruh kehidupan ini hanya sebagai materi. Ia menertawakan filsafat, tak percaya kepada jiwa dan mengenali nilai-nilai hanya sejauh menyangkut struktur keberadaan materi. Maka manusia dilihatnya hanya sebagai perut, dan segala uurusan politik hanyalah berkisar pada distribusi nasi. Maka ia fanatik kepada orang miskin dan 'sentimen' kepada orang kaya. Saya mencoba berontak dengan menunjukkan kepadanya bahwa saya ini lebih melarat dibanding dia yang punya gaji tetap dan besar dan bisa sering tamasya ke luar negeri dan bisa pelit. Maka kalau saya mentraktirnya ini itu, semata-mata karena filsafat hidup saya, kerena rasa sosial (bukan solidaritas rasional) dan karena nilai cinta kemanusiaan. Nilai-nilai itu ternyata tak ada maknanya bagi materialisme yang menjadi tulangg punggung kehidupannya. Saya jadi anyel. Saya katakan kepadanya bahwa rakyat Indonesia bisa bertahan hidup karena filsafat, karena ketahanan moral dan nilai-nilai kejiwaan. Kalau tak punya itu, dengan takaran materi yang amat rendah, mereka sudah hancur hidupnya. Dengan nilai-nilai itu mereka tetap sanggup memanusiakkan dirinya di tengah derita kemelaratan. Karena si monco ono memang tak tahu banyak tentang manusia Indonesia, maka dia tak mampu membantah argumentasi saya. Saya lantas merasa iba, kasihan, dan segera saya traktir lagi.
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Pakir/Mizan/PmBNetDok)