Wednesday, July 15, 2009

Syahadat Saridin

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.
Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.
Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur'an ana biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu.
Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.
Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur'an, lidah mereka lincah banget.
Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.
Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.
Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.
Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.
Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.
Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.
Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.
Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, sami'na wa atha'na -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.
Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.
Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.
"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya."
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa."
Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: "Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?"
"Takut sekali, Sunan."
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."
"Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"
"Aku tahu persis itu, Sunan."
"Kenapa kau langgar akal sehatmu?"
"Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati."
"Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?"
"Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati."
Sunan Kudus melanjutkan: "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?"
"Maksud Sunan?"
"Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?"
"Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin, "Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyakinannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda."
"Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?"
"Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya."


(Emha Ainun Nadjib - "Demokrasi Tolol versi Saridin")

Monday, May 11, 2009

Nyata dan Tidak Aneh


Kalau Anda menggenggam sebutir telor, dan beberapa puluh detik kemudian telor itu menjadi matang...
Kalau Anda mengikat roda kereta api, dan tali pengikat itu Anda gigit kemudian roda itupun terangkat dan Anda ayun-ayunkan...

Kalau ayam Anda dicuri oleh maling, dan Anda nge-sot : "Kalau dalam waktu sehari semalam ayam tak dikembalikan, si maling akan lumpuh!" -- sehingga ia lumpuh benar-benar...

Kalau Anda mengisikan jarum, pisau atau keranjang ke dalam perut seseorang yang Anda benci atau cemburu...

Kalau Anda letakkan telapak tangan dua sentimeter di atas meja dan Anda angkat meja itu tanpa menyentuhnya...

Kalau anda memangkas nyala api dan membelah air...

Kalau Anda memimpin rapat penting semalam suntuk, dan pada saat yang sama Anda beredar bersama kelompok siskamling...

Kalau Anda mengucapkan Assalamu'alaikum kepada seekor anjing dan anjing itu menjawab dengan gerak tubuhnya, atau Anda ,menatap mata harimau sehingga ia berlari tunggang langgang...
Kalau anda tahu persis siapa tamu yang sejam lagi datang ke rumah Anda dan mengerti maksud buruk atau baik yang dibawanya...

Kalau Anda mengobrol dengan Ibunda yang bertempat tinggal 300 km dari rumah domisili Anda...

Kalau Anda menggerakkan pasukan lebah untuk menyerbu musuh yang hendak memasuki wilayah Anda...

Kalau Anda mengembara semalaman dengan Khidir penggembala utama para wali Allah yang selalu hidup tersembunyi...
Itu tidak aneh. Itu nyata dan tidak aneh. Itu wajar dan rasional. Itu lumrah dan ilmiah, meskipun ilmu yang kita ketahui belum tentu mampu menerangkannya, meskipun pengetahuan yang kita kuasai belum tentu sanggup membeberkannya. Manusia itu lebih tinggi kemampuannya dibanding alam.
Manusia memiliki rahasia kemampuanyang mengatasi alam. Apabila hijab rahasia itu terbuka, maka manusia bukan saja menjadi transendental atau bebas dari kungkungan alam, tapi juga sekaligus berarti ia menapak ke maqam lebih tinggi yang semestinya memang ia tempuh.
Manusia bahkan adalah mahluk Allah yang lebih tinggi derajat kemakhlukannya dibanding para malaikat yang kita kenali sebahai gaib. Tetapi, kalau kemampuan dan rahasia, difestivalkan, dilombakan: itulah yang aneh. Apa haknya untuk memamerkan barang yang bukan miliknya? di mana muka manusia ditaruh dihadapan Tuhannya ketika ia memamerkan dan mantakaurkan anuugrahNya?
Hanya siswa-siswi Taman Kanak-kanak yang masih pantas untuk pamer gaya dan suara.
Sesudah bernyanyi, semua teman-teman bertepuk tangan. Tetapi ketika berangkat dewasa, anak-anak itu belajar tahu bahwa suara itu bukan miliknya. Tak seorang manusia pun bisa menentukan atau memilih warna suaranya, bentuk tubuhnya, cakep-tidak wajahnya, dimana ia lahir, menjadi anak siapa atau putra daerah mana. Allah yagn menentukan dan memilihkan. Tetapi kita memang tanpa malu-malu, di dunia ini, menjual milik-milik Allah itu untuk kepentingan pribadi, dengan anggapan seolah-olah diri kita ini seluruhnya adalah hak milik kita.

(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PmBNetDok)

Sudrun Gugat !!!


BIASANYA Sudrun memang mendadak datang di bilik saya lewat tengah malam, untuk mengingatkan agar saya jangan sampai tertidur di saat-saat paling bening seperti itu: justru ketika hampir semua orang terbaring lelap, ketika berbagai jenis kesibukan-kesibukan duniawi sedang beristirahat.
Tapi tadi malam Sudrun hadir tidak untuk itu. la tidak duduk di bibir ranjang seperi biasanya, mengusap jidat saya dengan wajah tersenyum. Melainkan berdiri di pojok ruang, tangannya bersedakap dan matanya melotot merah padam ke arah saya.

"MasyaAlllah...ada apa Drun?", terloncat pertanyaan dari mulut saya.
"Ada apa ada apa ndasmu!", ia membentak dengan ketus.

Saya terhenyak bangun. Terbelalak mata saya karena sungguh-sungguh tidak paham apa yang terjadi pada sahabat saya ini.

"Kali ini saya tidak bisa memaafkanmu. Saya tidak bersedia memohonkan ampun kepada Tuhan untukmu!" katanya lagi.
"Dan kalau mungkin nanti Tuhan bertanya kepada saya apakah sebaiknya kamu dimaafkan, saya akan kemukakan pendapat bahwa kamu harus membayarkan ongkos yang sangat mahal untuk mungkin memperoleh ampunan. Soalnya kamu ini main-main..."

"Apa-apaan ini? Main-main apa?", saya memotong.
"Kamu ini artis, tapi merasa Kiai. Kamu ini pedagang, tapi merasa jadi juru dakwah!" "Lho Iho Iho....", saya semakin tidak paham,
"Omong apa ini! Artis bagaimana? Pedagang bagaimana?"

Tapi rupanya Sudrun tidak perduli pada ketidakpahaman saya. la meraih peci saya di meja dan memasukkan ke dalam tasnya sambil menggerundel:
"Kamu pikir peci ini tanda kemusliman atau kekyaianmu? Dulu salah seorang tokoh PKI juga tiap hari pakai peci!". Kemudian surban yang tersampir di sandaran kursi diambilnya pula dengan kasar, ia lemparkan ke atas almari,
"Selembar kain yang membuat jutaan orang terserang tahayul! Sehingga mereka percaya kepada sesuatu yang tidak bisa dipercaya, sehingga mereka merindukan hal¬-hal yang sesungguhnya tidak ada!"
la terus menyerbu dengan gencar.
"Dan kamu menikmati tahayul itu. Kamu menikmati kebodohan massal orang-orang yang mengerumunimu. Hanya dengan uluk salam yang fasih dan kutipan satu dua firman ditambah kelicinan menggelitik telinga, mereka percaya bahwa kamu adalah segala-galanya..."
Tiba-tiba satu tangannya memegang dagu saya, mendongakkannya dan menghadapkan airmukanya yang amat keras ke wajahku,
"Dan yang paling celaka dari seluruh celaka rutin massal itu, kamu tahu apa? lalah bahwa kamu sendiri percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi ummatmu!"

Saya tertunduk lemas. Saya sungguh-sungguh tidak mengerti semua ini.
"Kamu adalah manusia makhluk biasa ciptaan Tuhan yang dijunjung-junjung oleh sejuta orang. Tiap hari dijunjung-junjung, setiap saat disanjung-sanjung, sehingga kamu sendiri akhirnya yakin bahwa kamu memang pantas dijunjung-junjung dan disanjung-sanjung.
Sejuta orang memusatkan perhatian dan cintanya kepadamu.
Sejuta orang bersetia kepadamu seharian di bawah terik matahari dan guyuran hujan.
Sejuta orang beranggapan bahwa kamu sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri.
Maka akhirnya kamu sendiri menomersatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa bahwa kamu tidak penting.
Kamu lupa bahwa jangankan kamu: bahkan alam semesta dan seluruh isinya inipun tidak pentilng – yakni pada saat kamu tenggelam di dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu. Kamu lupa bahwa kamu ini bukan apa-apa...."

"Lantas kamu pikir apa kamu ini apa-apa!?", kali ini saya yang membentak.

"Apalagi aku!", ia mengejek,
"Sedangkan kamu saja tidak penting, apalagi aku. Justru karena aku tahu terus-menerus bahwa aku bukan apa-apa, maka aku punya posisi dan kewajiban untuk mengingatkanmu bahwa kamu inipun bukan apa-apa.
Mulutmu yang manis bukanlah bikinanmu.
Suaramu yang melengking bukanlah produkmu.
Retorika dan orasi romantikmu bukanlah hasil dari kehendakmu.
Bahkan kamu tidak pemah sanggup menciptakan sehelai rambutpun.
Jadi kenapa kamu merasa penting?
Sehingga kamu sedemikian dahsyat mengkomoditisasikan pentingnya kamu di mata berjuta-juta orang itu, lantas managemenmu kacau.
Lantas kamu sanggupi tumpukan keharusan-keharusan yang kamu tidak sanggup memenuhi. Lantas terpaksa ingkar janji kepada nasabah-nasabah dan konsumen-konsumen tertentu di suatu daerah? Apa kamu ini bintang film?
Apa kamu ini produser yang memasang brooker-brooker di setiap propinsi yang memperoleh laba dari perniagaan keartisanmu?
Sedangkan pedagang yang asli pedagang
sajapun setia untuk berdisiplin mensuplai pesanan¬pesanan yang sudah terkonfirmasi.
Kalau sebuah toko sudah terlanjur membayarkan uang panjar dan memesan barang ke sebuah perusahaan pemasok, lantas pada saatnya barang itu ternyata tidak datang: ia tidak akan menerima alibi ‘manusia merencanakan, tapi Tuhan jua yang menentukan’.
Pedagang saja tidak logis dan tidak etis beralibi demikian.
Apalagi kamu!", ¬ia mengepalkan kedua tangannya,
"Aku sudah bosan mendengar berita semacam itu berulangkali!"

Sudrun terengah-engah sendiri oleh serbuan-serbuan gencarnya kepada saya.

(Emha Ainun Nadjib/"Kiai Sudrun Gugat"/PmBNetDok)

Tuhan Yang Maha Jowo


Kalau Anda sering bergaul dengan orang Luar Negeri, terutama auslander yang tergolong 'modern'dan 'rasional' -- mungkin saja sering Anda sampai pada kesimpulan begini : "Panas dulu kita bangsa Jawa ini gampang dijajah. Lha wong kita ini terlalu baik". Terlalu 'baikan' sama orang. Sangat menyambut. Akomodatif. Suka menyuguh dan memberikan apa saja yang kita bisa kepada para tamu. Itu namanya "jowo". Kalau pelit, itu "ora jowo". Tentulah. Karena kita semua memang pengagum Tuhan, dan berusaha meniru sifat-sifatNya. Bukankah Tuhan Maha Jowo? Bayangkanlah kalau Allah mengurangi jowoNya, misalnya pagi ini kurangi anugerah Nya kepada Anda dengan mengambil mata atau telinga yang nempel di tubuh kita dan disimpan kembali di gudang Nya. Lha, ya begitulah, beberapa lama ini saya menemani tamu monco saya. Tak habis-habisnya saya nraktir, membelikan lurik, batik, berbagai sovenir, T-shirt, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari, saya berdebat dengannya menemukannya sebagai seorang materialis sejati. Materialis itu bukan dalam arti gila materi, tapi ia melihat seluruh kehidupan ini hanya sebagai materi. Ia menertawakan filsafat, tak percaya kepada jiwa dan mengenali nilai-nilai hanya sejauh menyangkut struktur keberadaan materi. Maka manusia dilihatnya hanya sebagai perut, dan segala uurusan politik hanyalah berkisar pada distribusi nasi. Maka ia fanatik kepada orang miskin dan 'sentimen' kepada orang kaya. Saya mencoba berontak dengan menunjukkan kepadanya bahwa saya ini lebih melarat dibanding dia yang punya gaji tetap dan besar dan bisa sering tamasya ke luar negeri dan bisa pelit. Maka kalau saya mentraktirnya ini itu, semata-mata karena filsafat hidup saya, kerena rasa sosial (bukan solidaritas rasional) dan karena nilai cinta kemanusiaan. Nilai-nilai itu ternyata tak ada maknanya bagi materialisme yang menjadi tulangg punggung kehidupannya. Saya jadi anyel. Saya katakan kepadanya bahwa rakyat Indonesia bisa bertahan hidup karena filsafat, karena ketahanan moral dan nilai-nilai kejiwaan. Kalau tak punya itu, dengan takaran materi yang amat rendah, mereka sudah hancur hidupnya. Dengan nilai-nilai itu mereka tetap sanggup memanusiakkan dirinya di tengah derita kemelaratan. Karena si monco ono memang tak tahu banyak tentang manusia Indonesia, maka dia tak mampu membantah argumentasi saya. Saya lantas merasa iba, kasihan, dan segera saya traktir lagi.

(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Pakir/Mizan/PmBNetDok)

Tuesday, January 27, 2009

Makhluk Dari Planet Mana Israel Ini?


Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.

Nama kelompok kebangsaannya disebut paling banyak di Alquran, bahkan dipakai sebagai nama Surah. Beberapa identifikator sejarah penciptaan oleh Tuhan menyimpulkan yang disebut ‘’Dajjal’’, perusak dunia kelas wahid, berasal dari suku Yahudi ini dan berambut keriting. Tapi orang tidak benar-benar berani mengutuknya karena mereka keturunan Nabi Besar yang amat kita takdzimi, yakni Ibrahim AS, entah dari beliau Ismail atau Ishaq. Dan kemah ajaran beliau, millah Ibrahim, adalah induk segala ajaran, teologi monotheisme, nama beliau kita sebut pada rakaat salat kita semulia kekasih Allah, Muhammad SAW junjungan kita semua.

Mayoritas aset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan beliau dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia.

***

Anda tidak akan paham menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat. Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara. Di Belanda, November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap pekan.

Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan disain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Kenapa ibukota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa. Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut Jawa atau Jawi adalah ‘’keponakan’’-nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.

Dari dunia Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil ‘’taruhan’’ antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘’juara’’ mereka akan berguru kepada Jawa.

***

Apa-apaan itu? Dari bidang ilmu dan teknologi diberitakan bahwa revolusi invensi atau penemuan-penemuan baru akan mengubah geo-ekonomi, geo-politik dan kebudayaan dunia dari Cina, Brazil, Jepang dan Indonesia.

Bangsa Indonesia memasuki 2009 sebagai ‘’orang lugu’’ dan tidak perduli pada dirinya sendiri karena habis waktu dan enerjinya untuk urusan kotak suara. Padahal sejumlah makhluk Tuhan di luar manusia yang ditugasi menemani pertumbuhan peradaban ummat manusia sudah menyiapkan dibukanya sejumlah penemuan di bidang telekomunikasi, energi dan pertanian.

Sengaja saya tuturkan kepada sidang pembaca hal-hal yang ‘’tidak-tidak’’. Nanti kita akan sampai ke yang lebih ‘’tidak-tidak’’ lagi: Lemorian, banjir Nuh, Parikesit, terciptanya pulau-pulau Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dst. Dan akan saya sambung pada tulisan berikutnya pekan depan.

Tapi kita jangan bilang tidak masuk akal dulu sebelum kita bisa menjawab seberapa masuk akal kelakuan Israel sekarang ini: Dengan lancar dan mulus-mulus saja menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab, di depan hidung PBB.

Berdasarkan sejumlah ‘’khayalan’’ saya di atas, ucapkan: ‘’Ayo, Israel! Kalau berani jangan hanya berantem sama anak kemarin sore. Datang ke Indonesia, sini kamu, carok kita!’’.

(Emha Ainun Nadjib/Riau Pos/09 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)

Monday, October 13, 2008

Dasar Teori Tentang Majnun

Memang bukan Saridin namanya kalau tidak gila. Dan
bukan gilanya Saridin kalau definisinya sama dengan
definisi Anda tentang gila. Wong sama saya saja
Saridin sering bertengkar soal mana yang gila dan mana
yang tidak kok. Padahal saya juga agak gila. Apalagi
sama Anda. Anda kan jelas-jelas waras.

Misalnya di jaman Demak bagian akhir-akhir itu saya
menyatakan bersyukur bahwa dakwah para Wali semakin
produktif. Sunan Ampel yang berfungsi sebagai semacam
Ketua MPR, Sunan Kudus sebagai Menko Kesra, Sunan
Bonang sebagai Pangab, atau Sunan Kalijaga sebagai
Mendikbud, benar-benar menjalankan suatu managemen
sejarah dan strategi sosialisasi nilai dengan
metoda-metoda yang canggih dan efektif.

Bukan hanya komunitas-komunitas Islam semakin menyebar
dan meluas, tapi juga mutu kedalaman orang beribadah
semakin menggembirakan. Tapi Saridin menertawakan
saya. Dan bagi saya sangat menyakitkan karena
tertawanya dilambari aji-aji kedigdayaan batin: begitu
suara tertawanya lolos dari terowongan tenggorokan
Saridin, pepohonan bergetar-getar, burung-burung
beterbangan menjauh, awan-awan dan mega melarikan diri
sehingga matahari gemetar tertinggal sendirian di
langit.

"Jangan sok kamu Din!" saya berteriak.

Saridin menghentikan tertawanya. Ia menjawab.
"Bersyukur ya bersyukur, tapi kalau saya, juga
berprihatin."

"Kenapa?" tanya saya.

"Diantara orang-orang yang beribadah kepada Tuhan itu
banyak yang majnun!"

"Gila?"

"Ya, Majnun itu artinya ya gila, Majnun!"

"Majnun gimana?"

"Pengertian kita tentang junun atau kegilaan kayaknya
berbeda. Bagi saya gitu itu gila, tapi bagi kamu
tidak."

"Gitu itu gimana yang kamu maksud?"

"Orang berdiri khusyuk dan bersedekap. Matanya
konsentrasi ke kiblat. Mulutnya mengucapkan hanya
kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku
memohon pertolongan....", tiba-tiba tertawanya meledak
lagi, sehingga tanah yang saya pijak terguncang,
padahal tidak demikian. Orang itu tidak hanya kepada
Tuhan menyembah. Wong jelas tiap hari dia menyembah
para priyayi, para priyagung, para Tumenggung atau
Adipati. Minta tolongnya juga kebanyakan tidak kepada
Tuhan. Ia lebih banyak tergantung pada atasannya
dibanding kepada Tuhan. Meskipun dia tidak menyatakan,
tapi terbukti jelas dalam perilaku dia bahwa yang
nomor satu bagi hidupnya bukan Tuhan, melainkan
penguasa-penguasa lokal dalam hidupnya. Entah penguasa
politik, atau penguasa ekonomi. Itu namanya majnun.
Tuhan kok dibohongi. Dan caranya membohongi Tuhan
dengan kekhusyukan lagi! Kalau otaknya sehat, hal
begitu tidak terjadi. Hanya otak gila saja yang
memungkinkan hal itu terjadi....."

Saya melengos. "Ah, kamu ini terlalu idealis. Normal
dong kalau manusia punya kelemahan yang demikian. Mana
ada manusia yang sempurna. Orang kan boleh berproses.
Orang berhak belajar secara bertahap. Pengabdiannya
kepada Tuhan diolah dari belum utuh menjadi utuh pada
akhirnya. Konsistensi seseorang atas kata-kata yang
diucapkannya kan bertahap, tidak bisa langsung seratus
persen!"

Kesal betul saya.

Tiba-tiba tertawanya meletus lagi, sehingga saya
terjengkang lima depan kebelakang. "Lho, ini masalah
simpel. Kalau bilang jagung ya jagung, kalau kedelai
ya kedelai. Kalau ya itu ya ya. Kalau tidak itu ya
tidak. Gampang saja kan? Kalau seorang Imam terlanjur
mengungkapkan statemen kepada Tuhan 'hanya kepada-Mu
kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon
pertolongan' - maka ia harus bertanggung jawab atas
kata kami disitu. Artinya, pertama, ia terlanjur
berjanji kepada Tuhan. Kedua, ia harus bertanggung
jawab kolektif atas seluruh persoalan jamaahnya. Tidak
hanya imam dan takwanya, tapi juga segala masalah
kesehariannya, sampai soal nasi dan problem-problem
sosialnya....."

Sekarang giliran saya yang tertawa. Saya mendatangi
Saridin dan berbisik di telinganya: "Din, jangan
terlalu serius dong. Dialognya yang santai saja!"

"Lho!", Saridin terhenyak, "Justru karena ini untuk
[buku] humor, maka saya pilihkan tema-tema lawakan.
Gimana sih Ente ini. Yang saya omongkan ini kan
orang-orang yang melawak kepada Tuhan. Orang-orang
yang menyatakan sesuatu tapi tidak sungguh-sungguh.
Orang-orang yang ndagel di hadapan Tuhan, karena
mungkin dipikirnya Tuhan itu butuh dagelan dan
disangkanya para Malaikat bisa tertawa!"

Saya jadi agak takut-takut. "Din, Saridin, kamu jangan
begitu ah. Jangan omong yang enggak-enggak. Kalau sama
Tuhan yang serius dong!"

"Justru saya sangat serius kepada Tuhan, sehingga saya
ceritakan mengenai orang-orang yang melawak
dihadapan-Nya!"

"Orang beribadah kok melawak!" saya membantah lagi.

"Lho, gimana sih, " ia menjawab "Orang tiap hari
bersembahyang dan mengajukan permintaan kepada Tuhan -
'Ya Allah anugerahilah aku jalan yang lurus!' Dan
Tuhan sudah selalu menganugerahkan apa yang orang
minta. Orang itu tidak pernah memakainya, tapi tiap
hari ia memintanya lagi dan lagi kepada Tuhan. Kalau
saya jadi Tuhan, pasti kesel dong...."

"Husysysy!!!" saya membentak.

"Husysy bagaimana!"

"Emangnya kamu Tuhan?"

"Siapa bilang saya Tuhan? Majnun kamu!"

"Emangnya Tuhan bisa kesel?"

"Maha Suci Allah dari kekesalan. Tapi apakah karena
Tuhan mustahil kesal maka menjadi alasan
hamba-hamba-Nya untuk berbuat semaunya, untuk
mendustai Dia, untuk berbuat gila?"

"Wong gitu saja kok gila tho Din!"

"Lho! Orang sudah disuguhi kopi, tidak diminum, lha
kok minta kopi lagi, saya suguhi kopi lagi, lagi,
lagi, lagi sampai meja penuh sesak oleh gelas-gelas
kopi, tapi lantas tidak diminum lagi, tapi dia minta
lagi dan minta lagi. Gila namanya kan?"

"Ah ya bukan gila. Itu paling-paling munafik namanya."

"Ya gila dong. Majnun. Orang yang punya logika, tapi
berlaku tidak logis, itu penyakit junun namanya. Orang
yang tak menggunakan pengertian mengenai konteks,
proporsi dan lokasi-lokasi persoalan, itu virus junun
yang menyebabkannya. Orang bilang keadilan sosial,
tapi kerjanya tiap hari menata ketimpangan, itu
majnun. Orang bilang semua perjuangan ini untuk
rakyat, padahal prakteknya tidak - itu namanya virus
junun, lebih parah dari HIV...."

Akhirnya saya kesal. Saya tinggalkan si Majnun ini!

Emha Ainun Nadjib
Quoted from :
"Demokrasi Tolol Versi Saridin", Cetakan ke II 1998, Zaituna

Fatwa Tukang Becak



Perjalanan ulang alik Yoga-Jombang biasanya kami (saya dan saudara-saudari atau teman-teman)
lakukan di paruh malam yang kedua.
Naik bis yang kecepatannya supir ngedap-ngedapi selama 4-5 jam, subuh menyongsong kami di tempat
tujuan. Terkadang malah hanya tiga setengah jam, atau malah hanya beberapa kejapan saja - karena
kami 'tewas' sepanjang perjalanan.
Tak pernah terlintas ide di benak saya unuk mencoba menerapkan mekanisme demokrasi di bis :
misalnya, semua unsur merundingkan berapa kecepatan bis sebaiknya. Saya biasanya pasrah saja. Tak
pernah melontarkan kritik kepada bagaimana sopir menjalankan roda pemerintahannya. Tak perlu
mengonrol. Paling hanya evaluasi, yng toh saya 'peti-es' kan sendiri, tidak saya 'press release' kan.
demikianlah, malam itu, kami menunggu bis ke Solo atauYogya di perempatan njomplangan atau teteg
sepur deka stasiun Jombang. Becak berderet di sana, menunggu semacam janji hari depan, tanpa
batasan siang atau malam.
Kami menunggu bis favori kami. api karena malam, tak bisa langsung tampak bis apa yang akan lewat.
Jadi satu-satunya jalan ialah menjalankan semacam taktik atau srategi atau penipuan.
Semua bis kami stop. Kalau bis ternyata ke Kediri atau Ponorogo, kami jujur bilang "Ke Yogya" Kalau
yang lewat adalah bis ke Yogya tapi bukan favorit kami, kami berbohong "Ke Ponorogo!"
Demikian berlangsung berulang-ulang. Para tukang becak guyup membantu kesibukan kami "memilih
masa depan".
Salah seorang tukang becak bahkan berlaku seperti saudara kami sendiri: aktif menolong menyetopbis
dan mengobrol di setiap 'pause'. Dan ketika kemudian hujan mendadak turun, ia mempersilakan kami
berlindung di becaknya, sementara ia numpang di becak sisinya.
Hujan berkepanjangan. Tiba-tiba tukang becak itu nyeletuk: "Ya inilah hukuman bagi orang yang
berbohong!"
Kami terkesiap. Tak tahu mau berkata apa-apa.
"Tapi memang kalau meningkatkan taraf hidup memang harus pandai bohong" - ia melanjutkan -
"Kalau jujur saja nanti hanya dapat bis yang jelek dan lambat."
Dan ia terus melanjutkan - "Tapi ya untunglah Cak, Tuhan menghukum langsung, jadi nanti di akhirat
lebih ringan. Untung juga Tuhan masih mau menghukum, itu namanya Dia tresno, kita tidak di-ujo
saja..."
Kami benar-benar meenjadi bisu.
Sambil akhirnya bis favorit itu tiba, si tukang becak mempersilakan kami dan berkata - "Selamat tidur
Cak! Mudah-mudahan sudah lunas hukumnya!"
Saya malah tak bisa tidur. Apa benar sudah lunas? Apalagi keadaan hidup sekarang ini membuat dosa
tak terasa sebagai dosa.
Quoted by Redaksi from
"Secangkir Kopi Jon Parkir", Emha Ainun Nadjib, Mizan, Bandungg, cet. vi, 1996

Gitu Saja Kok Ribut

Kalau kita melakukan perjalanan di pelosok dusun atau di lereng gunung,
lantas bertanya pada seseorang beberapa jauh lagi desa yang akan kita
tuju, ia akan menjawab: "Sekilo lagi, Mas, ikuti jalan ini terus saja!"
Atau orang lainnya lagi mungkin memakai istilah yang berbeda: "Serokokan
lagi..."--artinya, kita sulut rokok, kita hisap sampai habis sebatang,
sampailah ke tempat tujuan.
Tapi, ternyata, kita harus masih berjalan kaki berkilo-kilo meter dan
menghabiskan sebungkus rokok. Kita lantas menyimpulkan bahwa
'sekilometer'-nya orang dusun itu sekian kali lipat dari seribu meter
ukuran matematika kita. Sementara 'serokokan' itu maksudnya pasti bibir
kita mengulum rokok saja tanpa dinyalakan.
Jelas, orang dusun dan orang gunung lebih tegar hidupnya dibanding kita.
Sepuluh kilo meter bagi kita, dekat satu kilometer bagi mereka. Jauh bagi
kita, dekat bagi mereka. Berat untuk kita, ringan saja untuk mereka.
Ketika saya melakukan turne di sepanjang pulau Madura, di wilayah timur
kami menempuh jarak yang menurut sopir kendaraan yang kami tumpangi hanya
sekitar 20 (dua puluh) km.
"Jalannya juga sudah bagus," ia meyakinkan.
Ternyata lebih dari 60 (enam puluh) km. Lagian keadaan jalan sudah rusak
cukup berat.
Sejak melewati KM 20 sesungguhnya kami sudah mulai protes, namun hanya
berani menggrundel dalam hati, karena kami belum mengerti persis bagaimana
metodenya kalau harus marah kepada orang Madura. Kami diam-diam mengidap
celurit syndrome. jangan-jangan nanti keliru omong.
Tapi sesampainya di tempat tujuan saya berani menghimpun keberanian
sesudah mengajak sopir itu berguru dan aktif menyodorkan rokok kepadanya.
"Pak, katanya tadi cuma 20 kilo, lha kok ternyata 60 kilo lebih?"
Ternyata ia tersenyum dan enteng saja menjawab: "Kalau begitu yang salah
bukan saya, Pak..."
"Lha, siapa yang salah?" Desak saya.
"Caranya menghitung tadi yang salah!"
Dan ketika kemudian saya kejar juga dia tentang kondisi jalan yang
ternyata penuh batu dan lobang-lobang, ia menukas dengan amat sigap: "Ah,
itu kan soal aspal saja, Pak!"
"Soal aspal saja bagimana?" Saya tidak mengerti. jadi bagus. Jadi ini soal
aspal saja yang kurang. Begitu saja, Bapak kok ribut!"
Logika dan metode berpikir yang sama saya jumpai pada informasi yang lain
dari sopir legendaris saya ini.
Ia bercerita bahwa di jalan yang kami lalui itu terdapat tempat makam yang
di dalamnya ada kuburan seorang tokoh lokal yang terpandang. Di nisannya,
tidak tertulis nama sang tokoh, melainkan kata-kata:
Dimakamkan di sini
pada........
ttd
SUAMI KAMI
Di bawah kata 'tertanda' itu tertera tiga nama istri almarhum. Sementara
nama yang tertimpa kematian sendiri malah tidak tertera sama sekali.
Ini merupakan gagasan cemerlang yang boleh ditransfer. Bagi kita yang
ingin menikmati istri tiga tanpa nama kita diketahui oleh generasi
mendatang, silahkan pakai model ini.
Tetapi yang menjadi permasalahn kita di sini bukan itu, melainkan
informasi sang sopir bahwa tanda tempat makam yang dimaksud itu bercat
putih bersih.
Ternyata setelah kami lihat, cat tembok itu sama sekali tidak putih,
melainkan campuran antara hitam, coklat, kelabu, dan macam-macam.
"Begitu kok putih, Pak!" saya nyeletuk.
"Lho! Itu kan cuma soal cat, Pak! Kalau tembok itu dicat putih ya jadi
putih. Begitu saja kok ribut Bapak ini!"
Saya kira logika semacam ini sangat perlu kita sosialisasikan, agar
masyarakat terbiasa menanggung realitas dengan kalem.
Kalau ada orang tanya kenapa sampai sejauh ini kita merdeka belum bisa
diciptakan keadilan sosial yang sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab:
"Itu kan sungguh-sungguh, kita tinggal menjawab: "Itu kan hanya soal
pemerataan, Mas. Kalau pemerataan dilaksanakan, kan adil. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang memprotes kenapa di kota-kota semakin banyak pelacur
berbagai jenis dan kelas, kita tinggal menepis: "Itu kan soal nama saja,
Mas. Asal mereka tidak kita sebut pelacur, kan jadinya tidak ada pelacur.
Sebut saja WTS atau 'wanita harapan' atau apa semua Mas. Gitu saja kok
ribut!"
Kalau ada orang yang mencak-mencak soal banyaknya penggusuran,
pengangguran, atau langkah yang cenderung kurang memanusiakan manusia,
kita sudah punya aji-aji untuk menjawab: "Ah, itu kan hanya soal anggapan,
Mas. Kalau penggusuran kita anggap pengorbanan, dan pengorbanan kita
anggap kemuliaan, kan kita malah dapat pahala dari Tuhan Gitu saja kok
ribut"[]
(Emha Ainun Nadjib/2002/PmBNetDok)

Kelak Tak Perlu Maaf Lagi, Semoga....

Untuk Hari raya, keterlaluanlah kalau hanya saya suguhkan secangkir kopi seperti biasanya. Musti saya kasih gelas yang besar, atau silakan ngejog.
Kalau 'ndak, nanti saya dirasani. Kalau toh tak dirasani, dan hanya dibatin saja sebagai seorang bakhil, kirkir, 'akik yaman', ya tugas saya untuk ngrasani diri saya sendiri.
Idul Fthri juga kita sebut Hari Raya. Semacam Hari Pesta, atau Yaumul Haflah. Memang, salah satu fitrah manusia ialah daerah yang hangat dan daging yang ingin gemuk.
'Kan dietnya sudah sebulan penuh.
Fitrah manusia itu dua sisi mata uang: wadag dan ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok 'kan kecut. Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi Panjenenganipun Kewan.
Berhariraya itu gampang.Tapi beridulfitri susah bukan main!
Berhariraya: mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya pemenuhan wadaqiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya,tinggal kuluu wasyarabuu, asal laa tusrifuu. Kalau sampai ada yang miskin, apalagi yang faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, acuh beibeh terhadap segla keduniaan. Kedua, ini yang gawat: ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil.
Jadi kalau ada milyaran manusia berada di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan syaithanirrajim.
Lha, yang susah itu beridulfithri.
Besok pagi kita akan sibuk minta maaf. Apa saja sih kesalahan kita? Apa saja dosa kita sebagai pribadi, sebagai pejabat, sebagai seniman, sebagai tukang becak, sebagai bagian dari organisasi sosialitas antar manusia? Mungkinkah kita menginventarisir semua itu, untuk kita ajukan dan mohonkan 'grasi' dari segenap manusia yang kita salahi: agar benar-benar kita peroleh Idul Fithri?
Jangan-jangan kita pernah dengki kepada orang lain: apa benar kita akan akui itu dan menjamin lusa tak kita ulang lagi? Jangan-jangan kita pernah memperbudak orang lain: kita egois, hanya tahu kepentingan kita, hanya ingat kebutuhan kita sendiri. Jangan-jangan kita terbiasa merampok orang, memfetakompli orang lain sebagai 'hostes' belaka, sebagai 'tukang pijat' dari klangenan kita, bahkan menjadi lintah yang menghisap, menyerap, menggerogoti tenaga darah kehidupan orang lain. Apa betul itu semua akan kita insafi demi memperoleh Idul Fithri?
Untunglah orang-orang di sekitar kita terbiasa hidup dengan pola Nabi Isa: "Kalau pipi kananmu ditempeleng, kasih pipi kirimu!"
Tapi nanti makin lama orang makin akan memakai model Nabi Muhammad, yang sudah mengevolusi,sudah mengalami akmaltu lakum dinakum, sudah menyempurna akidah kekhalifannnya.
Kalau pipi kananmu ditempeleng, jangan kasih pipi kirimu. Itu namanya nahiy munkar.
Pembebasan. Kenapa?
Mungkin anda sudah kebal,sehingga tak bergeming oleh seribu tempelengan di pipi Anda.
Mungkin Anda sudah sakti mandraguna. Berkat fatwa-fatwa para ulama mengenai iman, takwa dan kesabaran, sehingga Anda tak pusing oleh pukulan-pukulan.
Tapi kalau kita membiarkan pipi kia ditampar hanya karena kita sudah punya kekebalan 'aji lembu sekilan spiritual': itu namanya show of force, pamer kekuatan. Kita menunjukkan betapa hebatnya ketabahan kita, dan itu tak mustahil mengandung potensi riya' atau takabbur.
Membiarkan pipi ditempeleng, berarti membiarkan orang menempeleng. Dan kalau kita membiarkan orang lain berbuat salah, itu namanya egoistis. Kita terlalu berkonsentrasii untuk menghimpun 'pahala memaafkan' sambil membiarkan oang lain menumpuk 'dosa menempeleng'. Nggak bener dong!
Jadi, tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk quu anfusakum wa ahlikum naara.
Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh watak pendendam dalam diri kita.
Dalam mekanisme psikologisnya, kecenderungan yang biasanya malah justru mendorong orang yang 'ngintip' kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar peraturan lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula ia me-nahiy munkar kita.
Jadi, ia mengkapitalisir dosa-dosa kita demi akumulasi pahala-pahala dia, untuk credit point dan sogokan.
Polisi yang baik ialah berjuang sedemikian rupa sehingga kemungkinan kita berbuat salah ditekan serendah mungkin.
Bukan malah dijebak dan 'dimakan'. Dengan kata lain, kita tidak berburu 'pahala memaafkan'. Yang diusahakan oleh setiap muslim ialah keadaan dimana tak lagi perlu memaafkan, karena memang tak ada kesalahan.
Nah, kalau persyaratan-persyaratan maknawi dari proses maaf-memaafkan itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan: Al-'Afuw, Al-Ghafur, dan lain-lain
Pernah ada seorang Sufi yang ditempelenggi oleh serdadu gara-gara dia menunjuk kuburan, ketika ditanya, 'Dimana tempat yang ramai di sekitar sini?" Tatkala kemudian datang seseorang yang menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tokoh spiritual penasihat Sang Khalifah, serdadu itu lantas menyembah-nyembah memohon ampun.
Sang Sufi berkata: "Aku sudah memaafkanmu sejak sebelum engkau memukulku."
Di dalam Al-Qur'an, konsep mengenai negeri yang baik (adil makmuur) dipaparkan bersamaan (terkait, konstektual) dengan rabbun ghafuur.
tidak baldatun thayyibatun thok, tapi pakai 'Allah mengampuni' segala.
Memang kitab pamungkas itu diturunkan tidak untuk iseng. Coba, apakah kira-kira Allah mengampuni Amerika Serikat yang terus-menerus memveto resolusi yang menyngkut kezaliman Israel atas Palestina. Beranikah Anda menjamin bahwa Allah memaafkan histeria indvidualisme, materialisme dan liberalisme di negeri-negeri makmur yang dewasa ini kita makin mabuk menirunya?
Tetapi kita memang punya hobbi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun.
Kita terapkan theology of balance, bikin pelanggaran sebanyak-anyaknya dan bikin pahala untuk menimbanginya. Kita terlalu 'berjual beli' secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap Muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf: justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi.
Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling mamaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah 'alat penghapus dosa' (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melinkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.
Cakrawala perjalanan Muslim ialah keadaan bebas maaf. Keadaan di mana maaf tak diperluka, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, Idul Fithri, bukanlah menghapus kesalahan yang kita adakan dulu, melainkan berusaha tidak melakukan kesalahan.
Tapi namanya juga cakrawala. Kita tak akan pernah sampai ke sana. Kita sekadar mengarahkan diri ke sana.
Bukankah bahwa "manusia itu tempat kesalahan" termasuk sunnatullah atau hukum alam? Dan itu bisa kita eksploitir: Mari korupsi sebanyak-banyaknya, lantas kita bilang: Al insaanu mahallul khatha' wan-nisyaan! Manusia itu tempat persemayaman kesalahan dan lupa!
Asal ingat bahwa malaikat Munkar dan Nakir memiliki Aji Bajra geni yang amat nggegirisi. Bahkan "wa man ya'mal mistqala dzarratin syarran yarah!" (barangsiapa memperbuat sedebu keburukan, he'll see...kata Allah) bisa berlaku detik ini juga.
Demikianlah saya ancam diri saya sendiri...
Saya ucapkan Minal 'Aidin wa Faidzin: semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orng yang beruntung. Siapakah yang beruntung?
Laa yastawii ashhabun-naari wa ashhabul-jannah, ashhabul-jannati humul-faaizun. Tidak sama sekabat neraka dengan sekabat surga. Sekabat surga ialah orang-orang yang beruntung.
Surah apa dan ayat berapa itu ya?
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Pakir/Miza/PmBNetDok)

Terkilir

Nabi yang paling kontroversial bernama Khidhir. Lidah jawa, dulu,
menyebutnya Kilir.
Ini kekasih Allah yang amat canggih ilmunya. bayangkan, Musa yang super
intelektual dan negarawan itu saja 'nyahok' dihadapan beliau. Apalagi
Anda dan Jon yang fakir.
Kontroversial ? Ya orang terus berdebat, beliau itu sudah wafat atau belum.
Al Qur'an tak memberitakan hal itu. Tak sedikit orang percaya bahwa Khidhir
masih 'exist'. Bahkan sering dijadiikan pedoman dan cakrawala untuk laku-
laku keilmuan tertentu.
Seorag santri sibuk berjuang untuk bisa ketemu Nabi eksentrik itu, sebab
sang Kiai bilang seorang santri baru sempurna kesantriannya kalau sudah lulus ketemu Khidhir. Syaratnya adalah, hati bersih, keikhlasan dan tak punya kebencian.
Pada suatu malam, santri kita itu dikasih tahu olek Kiai, mungkin sudah
bisa menemui Khidhir di sebuah tempat di dekat pantai. Ketika malam ia
kesana, yang dijumpainya malah seorang anak muda bergaya 'rocker', rambutnya 'punk', pakainannya 'norak', mengendarai motor yang knalpotnya ribut kayak perang dunia III.
Santri kita muak melihatnya. Kecewa dan langsung belalu pulang ke Kiainya.
Karena tergesa, kakinya terkilir sebelum sampai.
Ketika sampai, ia sampaikan pengalamannya itu, dan sang Kiai bilang, " Kenapa kau tinggalkan ia ? Itu Khidhir yang datang untuk menguji apakah engkau masih punya rasa benci atau tidak ". Santri kita menyesal habis-habisan.
Tentu saja kita tak perlu memperdebatkan itu Khidhir atau bukan. Yang Jon ambil dari kisah itu ialah dakwah mengenai ketulusan hati dan kebijakan untuk tak keburu membenci sesuatu hanya karena penampilan kulit luarnya. Supaya jiwa kita tak terkilir.

(Emha Ainun Najid/"Secangkir Kopi Jon Pakir/PmBNetDok)

Sesloki Samdera

Jon Parkir punya banyak kawan orang Iran.
Macam-macam modelnya. Si caem itu mahasiswi. liberal, tidak politis, berusaha bisa meloskan tubuhnya yang mbody, sintal bahenol.
Si cambang itu militan, jiwanya tegak ke langit. Kaki Allah terpateri di keningnya. Ia berani menyongsong gunung meletus.
Si doktor, pelarian Mujahidin Khalq itu, sibuk diskusi. Rambutnya rontok oleh obsesi politik, teknokrasi ngara baru, membayangkan rakyat Iran itu gumpalan angka-angka.
Lha si limbung ini yang susah. Wajahnya terbengkalai dan matanya seperti sanggup meledakkan bumi. Begitu ia tahu Jon beragama Islam, ia langsung naik pitam.
"Apaan tuh Islam! Kenapa kam masih begiu tolol di tengah abad nuklir dan kecerdasan begini. Elu tahu Al Qur'an itu tak lebih dari buku sejarah untuk Sekolah Menengah ...!"
Pokoknya dia marah-marah. Ia lahir dari chaos revolusi Iran tanpa bisa menerjemahkan ke dalam kearifannya apa yang terjadi. Segala sesuatu di arruus bawah dan arus permukaan perpolitikan dan peradabanmuka bumi yang serba dimensi ini menjadi sederhana ditangannya.
Pokoknya Islam yang salah!
Setelah Jon yajin bahwa nanti kalau terpaksa -- apa boleh buat akan Jon pakai jurus Sin Lam Ba yang Jon karang-karang mendadak barulah Jon omong dingin:
Al Qur'an itu samuudera tak bertepi. Dan manusia itu ember, drum, kaleng atau cangkir.
Kalau engkau drum, engkau peroleh air satu drum dari samudera. Kalau engkau cangkir, apalagi sekedar sloki, air perolehanmu pun hanya sesloki..."
Ternyata di tanah air, ada juga sloki-sloki.
"Sejak kenal marxisme, saya berhenti sembahyang. Alhamdulillah!" kata mereka.
"Kok alhamulillah? Alhamdulilmarx dong."
Dan, bagus. Islammu belum bener. Lepaskan. Semoga nanti ketemu yang asli Islam.

(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Parkir"/1996/PmBNetDok)

Pengamen Cilik Itu, Sukmanya


Kalau Anda suka lesehan makan di Malioboro malam atau ngemil jagung bakar di alun-alun, pasti merasakan berbagai segi pengalaman dengan para pengamen. Jumlah mereka banyak bukan main, ya ?

Memang makin banyak anak-anak muda penganggur. Kita musti prihatin dan santun kepada mereka, meskipun terkadang kita sebel saking banyaknya yang datang ngamen. Satu jam duduk ngemil jagung, bisa tujuh atau sepuluh pengamen. Jumlah uang untuk pengamen bisa jauh lebih banyak dibanding untuk bayar jagung dan ronde.

Kalau di Jakarta lain lagi.

Naiklah Bis Kota, anak-anak muda pengamen dalam bis bisa lebih tertib dan profesional. Pakai MC segala. "Ibu-ibu dan Bapak-bapak serta Saudara-saudara sekalian. Selamat siang. Untuk mengurangi kelelahan Anda dalam perjalanan ini, kami bermaksud menghibur dengan beberapa lagu..."

Para pengamen itu pakai topi, kupluk, atau blangkon. Begitu selesai lagi, topi dicopot, ditengadahkan dan beredar ke tempat duduk para penumpang. Anda persilakan memberi atau tidak. Mungkin hukumnya "fardhu kifayah".

Sebelum berlalu, mereka ber-MC lagi: "Terima kasih kami ucapkan kepada Anda sekalian atas perhatiannya kepada kami. Kami doakan semoga selamat dan sejahtera sampai di tujuan."

Beberapa hari ini saya menyaksikan yang ngamen di bis itu anak-anak kecil. Pidatonya juga tidak kalah canggih. Tapi umumnya mereka belum bisa memainkan instrumen musik. Jadi mungkin sekadar nyanyi diiringi kendang kayu.

Terkadang mereka menyanyi polos, keras, memekik, berteriak, serak dan melonjak-lonjak-seperti menghentakkan derita batin yang mereka sendiri belum mengenalnya. Yang paling tajam adalah pemandangan wajah mereka dan sorot mata mereka. Memancarkan ketidakbahagiaan dan ketidakrelaan.

Anak-anak seumur itu, bukan saja tidak memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga tak mendapatkan santunan sosial, tak mendapatkan hak mereka untuk dikasih makan-minum setiap hari; sehingga mereka harus gigih sedemikian rupa. pasti derajat mereka jauh lebih tinggi dibanding para koruptor, atau para pengemis terhormat, atau apalagi yang korupsi dan pengemisannya 'legal' dan tidak kentara.

Tapi sukma para pengamen anak-anak itu tidak akan rela. Tetapi mereka memancarkan cahaya dari Allah yang juga tidak ridha, tidak rela........

(Emha Ainun Nadjib/Secangkir Kopi Jon Parkir/1992/PmBNetDok)

Sunday, March 11, 2007

Kekerasan terhadap wanita kah ini?

Harusnya tulisan ini telah terposting tanggal 8 Maret lalu, tepat saat
memperingati hari wanita se-dunia. Karena ini merupakan wujud rasa
keperihatinan terhadap sesosok wanita, keperihatinan? hmmnn memang agak sedikit
membingungkan untuk otakku yang telah terkontaminasi peradaban kontemporer ini.
Sebab kisah ini masih serba tidak jelas, apakah memang penindasan terhadap
wanita, ataukah karena keluguan seorang wanita yang tidak sadar telah terperdaya,
atau bahkan mungkin tidak merasa tertindas karena telah menganggapnya sebagai
anugrah dan kenikmatan?


Masih shock dengan email yang dikirim oleh rekan lama beberapa hari lalu,
hari ini ternyata email susulan nggak kalah membuatku lebih geleng-geleng
kepala sembari mengelus dada. Potongan cerita perbincangan yang hanya pantas
dibaca oleh pria ataupun wanita yang mengaku telah dewasa. Sosok yang konon
kabarnya sangat teguh dengan pendiriannya, sangat kuat dengan ibadahnya, sangat
santun dengan budayanya, sangat mempesona dengan kecantikannya, kini
bayangan-banyangan itu memudar dengan perlahan dari imagi tentangnya.



Betapa ia telah sangat menikmati perbuatan yang sebenanya belum pantas
dilakukan. Bagaimana dengan sangat jelas digambarkan bahwa semua dilakukan
dengan kesenangan, sama-sama mereguk kenikmatan dunia, mendesah dan memuncak
dengan bersama, tanpa ada satu paksaan.



Tapi kebingunganku bertambah, bahwasanya itu semua dilakukan tanpa ada satu
ikatan yang jelas. Ataukah perasaan sama-sama menuai peluh keringat setelah
“bertempur” beberapa kali, sudah cukup untuk meng”absah”kan perbuatan tersebut?
Berarti nggak usah neko-neko pake status “kekasih” , hubungan “pacaran” atau
bahkan “ijab kabul” segala?



Kan kalau pacaran itu harus tau segalanya tentang pasangan, kan kalau “ijab
kabul” itu harus tahu silsilah keluarga, apalagi yang namanya “Bibit, Bebet,
dan Bobot” buat sebagian besar orang masih sangat penting?



Eyalah... apa ini tho yang namanya jaman serba instan, nggak cuman Mie
saja, tidak hanya bubur thok, apalagi penyimpanan data-data, karena sudah
sangat dimudahkan dengan teknologi digitalisasi yang cepat. Ternyata masalah yang
katanya “mereguk kenikmatan bersama” juga bisa yah dibuat instan?



Jarak yang lumayan jauh bukan menjadi penghalang untuk melakukan yang
“instan-instan” itu. Tanpa harus memikirkan apa yang selanjutnya terjadi
ataukah memang belum terpikirkan yah? namun semoga bukan “nggak terpikirkan”!



Air mata yang mengalir bukanlah air mata penyesalan atas terenggutnya
“kesucian wanita” bukan pula tangisan penderitaan atas perbuatan seorang pria
yang dikencaninya. Namun air mata “kebahagiaan” atas “kenikmatan” sesaat yang
instan.



Tertindaskah dia sebagai “wanita”? Menindaskah dia sebagai “pria”?
Tertindaskah mereka dengan “instanisasi asmara”?



Kurasa aku tak berhak untuk menanyakan apalagi mengomentari, karena terlalu
dangkal pengetahuanku tentang itu semua. Mungkin hanya coretan iseng ini
sebagai wujud rasa keprihatinan terhadap apa yang telah terjadi dengan rekan
baru, yang dia juga adalah seorang “wanita”.



Monday, March 05, 2007

Satu Cerita dari Kota Tercinta...

Duh Gusti,
kawulo nyuwun pangapunten, ternyata ndhak salah kalo toh Panjenengan memberikan
azab bagi kami umatMu. Tapi, bukankah semua itu cobaan dengan harapan semoga
kami menjadi lebih arif menjadi manusia di muka bumi ini, ataukah saya, dia,
serta mereka yang memang kelewatan dan tak tau malu di hadapanMu Yang Memiliki
sertifikat atas seluruh dunia ini bahkan hidup dan mati kami?



Belum lagi sirna
dari ingatan hamba yang mudah lupa ini tentang dasyatnya gempa yang meluluhkan
Jogja, kini angin puting beliung menerpa…. Apakah ini peringatan ataukah memang
petunjuk yang tersembunyi dariMu.



Ah, kalau coba
direnungkan memang sepertinya sudah sewajarnya Kau kirim itu semua, karena
memang umatMu sebagian besar sudah khilaf dah lupa pada hakikat sebenarnya
tentang makna hidup ini.



Kotaku tercinta
yang dulu selalu terlihat lugu dan ayu, tak hanya porak poranda oleh bencana,
tapi juga telah luluh lantak oleh pergeseran budaya.



Paras asli Jogja
kini telah bersolek dengan gincu dan bedak kamuflase sosial.



Kata orang,
persepsi adalah kesan yang ditangkap oleh panca indera ditambah pengalaman yang
akan menghasilkan perilaku. Hmmnn pengalamanku mengatakan Jogja masih aseli seperti logo Dagadu, namun
panca inderaku kini menangkap hal yang sungguh fantastis berbeda, sungguh sangat…sangat berbeda. Lantunan lagu Jogjakarta milik Kla
Project kini menjadi getir terdengar. Jikalau kotaku mampu menitikkan air mata,
barangkali tak hanya tetesan yang
terlinang namun derai yang mengucur deras ke pangkuannya.



Duh Gusti... kini mau dikemanakan
paras jelita si gadis lugu itu. Peradaban yang telah tercoreng serta
tercabik-cabik oleh kenikmatan sesaat yang tak Kau ijinkan.



Aku tertegun sejenak karena hampir
tak percaya setelah kubuka email yang terkirim dari rekan lama.
Potongan
bukti bahwa kini ketabuan dan kesucian tak lagi dianggap berarti. Aku pikir ini
hanya terjadi di ibu kota,
di mana pusat terjadinya kemaksiatan, kehancuran moral, dan pergeseran budaya.
Tapi ini…. di Jogja??? leherku serasa tersekat tak dapat mengeluarkan
potongan-potongan kalimat.



Ataukah aku yang
terlalu bodoh ndhak bisa ngikutin perkembangan zaman, it has been changed man!
wake up! you’re too slow to catch it!
Apa aku yang memang sangat tolol dan
naif.



Hal-hal yang aku
anggap masih tabu ternyata sudah lazim dilakukan oleh yang lain. Aku pikir hal
itu masih “zinah” dilakukan, ataukah sudah bergeser menjadi “halal” untuk
dinikmati?



Membuktikan
sudah tak lagi menstruasi dengan telah melakukan “sholat” sehingga bisa leluasa
untuk melakukan hubungan badan pra Nikah?



Kalimat apa yang
pantas terucap dari bibirku yang kaku ini, “Alhamdulillah” kah karena toh
ternyata dia masih ingat kewajibannya untuk menyembahMu. Atau “Astagfirullah” kah karena melanggar batas
yang telah Kau tetapkan?



Apa yang sepantasnya hamba lakukan?
menolong mereka dari “kenikmatan”? ataukah termenung membayangkan balasan
dariMu yang pasti akan datang. Sekilas
aku teringat potongan lagu milik Java Jive



“Deru nafas memacu di dalam ruang
seiring hasrat manusia. Gelap melanda jiwa dan mereka terlena oh begitu cepat
dosa itu terbuat.”



Duh Gusti, hamba
yang terlalu lugu dengan perubahan zaman ataukah memang manusianya yang sudah
tak lagi perduli dengan azabMu? aku hanya dapat mengurut dada dan geleng
kepala. Modernisasi ataukah kebebasan yang kebablasan? Otorisasi atas hidup
manusia ataukah kebodohan atas nafsu birahi yang tak tertahankan?



Barangkali
kewarasanku sudah tak lagi dapat dipercaya, haruskah ikut tergilas dengan
keterkinian ataukah tetap bertahan pada akar rapuh tradisional kampungan yang
tersisa. Please Gusti Allah, kuatkanlah akar rapuh itu….






Tuesday, November 15, 2005

Secuil makna hidup........

Hari ini keliatannya akan menjadi hari yang luar biasa buat orang biasa sepertiku. Bukan karena hari ini Valentine's Day, bukan juga karena hari ulang tahun seseorang yang special.
Cuman keliatan agak beda karena nanti malam rencana untuk datang ketemu langsung yang namanya Cak Nun plus Kyai Kanjeng. Oalah seumur-umur yah aku baru mau ketelu langsung jeee.... Tapi kok jadi geli sendiri, mo ketemu sama Cak Nun aja, persiapannya udah mirip mau ketemu selebritis top hahahaha..... Padahal waktu jadi penyiar dulu, wawancara sama artis-artis top sering banget, dan nyantai aja, kadang malah cuman pake t-shirt hehehe....

Udah lah... nggak perlu pethengseng sok nggaya, wong juga nggak bakalan ada yang ndhelok....
The important thing (wah bahasa inggris iki.....) harus siap mental mo ketemu sama Kyai, lho kok Kyai?, Ulama? Penyair? Penulis? Artis? Orang Terkenal? Tukang Ngapusi? ah mboh lah... nggak penting.... Yang pasti mo ketemu sama Mbak Via, kan ayu tenan hehehehe......

Wes.... dengan langkah pasti, sambil nenteng segala macem peralatan lengkap, termasuk camera digital pinjeman, handycam digital pinjeman juga, aku jalan menuju Dewan Bahasa Kuala Lumpur, soalnya digelar (walau nggak pake tiker) di sana acaranya....
Ealah.... kok kecepetan, ternyata acaranya jam 9 malem, padahal sampai sana baru jam 7-an.
Selepas Maghriban, baru Cak Nun dan Mbak Via muncul, dan langsung masuk ke ruang pertemuan buat makan malam dulu sebelom pentas....
Tanpa pikir panjang, karena memang nggak biasa mikir panjang-panjang, langsung aku ambil camera, and ceprat....cepret sana sini udah kayak wartawan.....

Cak Nun keliatan serius nikmatin makan malemnya sambil diwawancara wartawan harian lokal Malaysia. Sementara mbak Via ngobrol asik dengan beberapa Mak Cik- Mak Cik di meja lainnya.
Abis diwawancara sementara belom selesai dengan makanan penutupnya, Cak Nun sendirian di meja. Dengan inisiatif ndhadakan aku langsung duduk di situ, sambil tentunya dengan kepedean ngenalin diri dulu hehehe.....
Ternyata asik juga first impressionnya.... Cak Nun langsung bilang, "Ambil dulu makanan di sana trus bawa ke sini kita ngobrol-ngobrol"
Wah kayak gayung bersambut aja, langsung ambil makanan trus duduk satu meja sama Cak Nun yang juga belom selesai ngemil. Kayaknya neh orang paranormal kali yah, kok yah tau aja perut lagi laper hehehe.....

Baru dimulai chit-chat awal tiba-tiba dateng lagi wartawan yang mo wawancara, sekarang dari TV3 Malaysia, wah... yo wes lah... kalo ini harus ngalah, kayaknya penting banget....
Aku mo pamitan sebentar maksudnya, cuman malah tetep disuruh stay di situ. Usut punya usut ternyata aku jadi translator ndhada'annya Cak Nun hahahaha.....
Walau bahasa mirip-mirip, tapi kan beda juga, jadi dengan keterbatasan bahasa Malay yang aku bisa, sok pede nerjemahin ke kedua belah pihak.

Selesai makan dan wawancara, waktu menunjukkan jam 8.45, ternyata pementasan diundur jam 9.30. Waahhhh kebeneran banget neh pikirku, mumpung masih sama Cak Nun, aku mulai nerocos dengan seabrek pertanyaan, mulai dari tuliasannya, sampe masalah sosial ekonomi Indonesia saat ini, dari masalah Tsunami di Aceh sampe kabar burung Mama Lorenz di milis yang bilang bakal ada gedung di Kuningan Jakarta yang ambruk....
Wah.... sok tau banget deh aku ini....
Cuman asik juga yah, ternyata seorang Cak Nun kalo ngobrol nggak pandang orang, mau sama siapa aja sama aja... kalo dipikir-pikir emang aku ini siapa seh? kok ya Cak Nun serius banget ngebahasnya.

Dari beberapa topik yang dibahas ada satu hal yang menarik. Satu pertanyaan yang langsung bikin alis Cak Nun seolah-olah mau dempet mikir. Aku cuman nanya siple aja, "Cak, menurut sampeyan, hidup yang baik itu gimana seh?"
Lumayan sak wentoro waktu Cak Nun diam, trus dia mengambil naskah di sampingnya, sambil duduk di anak tangga, sembari sesekali keluar asap dari mulut menikmati Dji Sam Soe kretek ditangannya.
"Wah kalo ini agak sulit, karena yang bisa jawab hanya Allah semata. Saya ndhak tau ukuran hidup yang sampeyan atau perdana menteri ataupun tukang baso mauin. Karena pada hakekatnya hidup ini sudah ada yang mengatur."
"Sampeyan tau ini naskah, di sana ada panggung, coba sampeyan baca naskahnya, trus maen'o di atas panggung itu. Nah di sana akan terlihat kualias hidup yang baik atau ndhak?"

Aku cuman melongo dengar apa yang dia suruh, "Lha kok? maksud sampeyan apa Cak?"
Sambil tetep ngebul santai dia berkata "Hidup ini seperti halnya pementasan kethoprak di panggung. Ada yang nulis naskahnya, dan kita sebagai pemain wajib memainkan peran kita masing-masing dengan baik. Sama juga dengan hidup, Allah Yang Maha Penulis Naskah hidup manusia, dan kita manusia khalifah Allah di dunia wajib menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya dengan peran kita masing-masing."
Sambil tetep nikmatin udhut yang makin kian pendek Cak Nun meneruskan "Kalo sampeyan jadi petruk, jadilah petruk yang baik, kalo jadi gatotkaca jadilah yang wibawa, dan sebagainya. Jadi sebenernya hidup ini sudah diatur sedemikianrupa, sehinga manusia hidup bervariasi dan beraneka, dan dari keanekaragaman serta perbedaan itu muncul keindahan yang disebut kebersamaan yang saling melengkapi."

Mendengar penuturannya aku asal njeplak nggak mikir lagi nerocos " Lah kalo gitu yah santai-santai aja lah, nggak usah ngoyo belajar, sekolah, kerja, dan sebagainya, lha wong udah ada garisnya masing-masing. Kalo emang garisnya jadi bangsa mlarat ya udah nggak usah usaha supaya jadi bangsa yang maju. Nek sudah jadi wong kere yah kere aja, nggak usah ngimpi jadi wong sugih."

Dengan lebih santai sembari membakar rokok kedua Cak Nun njawab "Lha sampeyan ini emangnya penulis naskah? Emangnya sampeyan ini Tuhan? Kok bisa nebak sak' enak'e udhel'e dhewe akhir lakonan cerita. Kan sampeyan dan saya ini termasuk pemain-pemain di pentas ini."

Manggut-manggut aku tampak sepemikiran dengan kalimatnya. Cuman dengan nggaya sok nggak mau kalah dari omongannya, aku menimpali "Lha sekarang, gimana kita bisa tau kwalitas hidup kita di dunia ini, maksud saya, apa barometernya kita jadi manusia yang baik atau buruk? bagaimana kita bisa sadar kalau kita sudah atau belum menjadi manusia yang manusiawi?"

Sambil tertawa kecil dia nggak kalah kalimatnya "Sekarang gini aja, sampeyan naik ke atas panggung itu, trus sampeyan maen seenaknya aja, nggak usah belajar naskah, cerita dibuat suka-suka, nggak perlu penghayatan watak, wes tho' karepmu dhewe lah, trus apa yang akan terjadi?"

Dengan sangat mantheb aku jawab secepat kilat "Yah maennya jadi jelek dong Cak, nggak karuan jalan ceritanya, penokohan nggak jelas, cerita absrud, mbundhel nggak karuan. Trus kalo kita maennya jelek jelas nggak bakalan dapet tepokan tangan apalagi standing applause, yang ada dilempari, mending cuman makanan atau botol minuman, sialnya kalo kursi penonton ikutan melayang."

Sambil senyum Cak Nun menjawab "Nah itu sampeyan udah dapet jawabannya! ayo masuk udah waktunya manggung, selak dientheni penonton". Ngeloyor dia pergi masuk ke dalam gedung Dewan Bahasa Kuala Lumpur Malaysia yang sudah mulai dipenuhi orang.
Masih dalam keadaan bengong mlongo akupun ikut ngloyor masuk gedung tersebut, mbunthuti Cak Nun.

KL, 14 Feb 2005